AI dan Pusat Data Berisiko Perparah Krisis Iklim, Jadi Bahasan Utama di COP31
Dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap perubahan iklim dan penggunaan energi bersih di pusat data akan menjadi bahasan utama di Konferensi Para Pihak PBB ke-31 atau COP31 di Antalya, Turki, November mendatang.
Dalam gelaran Climate Week di New York pada Senin (28/9), Menteri Iklim Turki Murat Kurum mengatakan, COP31 akan banyak membahas kekhawatiran terhadap perkembangan AI dan peningkatan konsumsi energinya.
“Kita harus terbuka mendiskusikan peningkatan konsumsi energi dari perkembangan AI dan sudah waktunya bagi para pemerintah untuk mulai menetapkan aturannya,” kata Kurum, dikutip dari Turkiye Today pada Rabu (30/9).
Dia berharap, para perusahaan yang berkaitan dengan pengembangan AI dan pusat data bisa terbuka mengenai penggunaan energinya dan beralih ke energi bersih untuk operasionalnya.
Rencana Komitmen Iklim Sukarela soal AI
Kepresidenan COP31 juga mengatakan tengah mengembangkan ‘komitmen politik’ bersama sebuah badan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai bagaimana AI dapat mendukung target-target iklim. Harapannya, draf komitmen itu selesai sebelum konferensi dimulai.
Inisiatif ini akan menyoroti proyek-proyek percontohan dengan tujuan mendemonstrasikan penggunaan AI yang bertanggung jawab. Komitmen tersebut bersifat sukarela, sehingga tidak membutuhkan persetujuan dari sekitar 200 negara yang berpartisipasi dalam negosiasi iklim ini.
Inisiatif-insiatif yang sifatnya tidak mengikat ini merupakan bagian dari Action Agenda atau agenda aksi yang terpisah dari konferensi tersebut, namun tetap berjalan beriringan dengan perundingan resmi.
Sebagai informasi, gelaran COP31 tahun ini diselenggarakan di bawah kepemimpinan dua negara. Turki sebagai tuan rumah sekaligus menentukan agenda di luar perundingan resmi, sementara Australia akan memimpin negosiasi politik formalnya.
Turki Dorong Target Elektrifikasi 35% pada 2035
Selain persoalan AI, Turki akan mendorong pembahasan terkait inisiatif mengurangi emisi dari limbah, mempersiapkan kota yang tahan perubahan iklim, serta memperluas elektrifikasi.
Bagian utama dari agenda COP31 Turki adalah target baru untuk meningkatkan pangsa elektrifikasi dalam kebutuhan energi global menjadi 35 persen pada 2035. Elektrifikasi akan mengganti teknologi dengan bahan bakar fosil, termasuk sistem pemanas berbahan bakar gas dan kendaraan berbasis diesel, dengan alternatif listrik.
Agar berkontribusi pada target iklim, listrik tambahan juga harus berasal dari sumber yang bersih, seperti dari energi surya dan angin. Namun, target yang disebut ‘35x35’ ini tidak menentukan bagaimana listrik tambahan itu harus dihasilkan.
