Hashim: Pemerintah Setop Rencana Cetak Sawah di Kawasan Hutan, Stok Beras Cukup

Ajeng Dwita Ayuningtyas
6 Oktober 2026, 17:27
Sawah di lokasi PSN ketahanan pangan dan energi nasional di Desa Telaga Sari, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan (3/11/2024). Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengatakan pemerintah akan menahan rencana cet
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.
Sawah di lokasi PSN ketahanan pangan dan energi nasional di Desa Telaga Sari, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan (3/11/2024). Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengatakan pemerintah akan menahan rencana cetak sawah dengan membuka kawasan hutan karena stok beras cukup. Hal ini disampaikan dalam pidato di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah berencana menghentikan pembukaan kawasan hutan untuk program cetak sawah. Sebagai gantinya, produksi pangan dan energi nasional ke depan akan memanfaatkan lebih dulu lahan-lahan terdegradasi. 

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengatakan bahwa keputusan ini seiring tercapainya swasembada beras Indonesia setelah 42 tahun. Hashim membeberkan, stok beras pemerintah telah mencapai 5,3 juta ton dan terus bertambah.

“Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Pertanian, melalui saya sebagai utusan khusus ingin menyampaikan bahwa saat ini tidak diperlukan perluasan penanaman padi di kawasan hutan,” kata Hashim, dalam sambutannya di Indonesia International Sustainable Forum 2026, Selasa (6/10).

Hashim mengatakan swasembada beras tersebut tercapai tanpa membuka 2 juta hektare lahan baru seperti yang sebelumnya direncanakan di kawasan rawa Papua dan Kalimantan. Menurut dia, capaian tersebut didukung berbagai insentif pemerintah kepada petani.

Lahan Terdegradasi untuk Tanaman Energi dan Pangan

Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral Mari Elka Pangestu mengatakan, Indonesia memiliki lebih dari 12 juta hektare lahan terdegradasi. Angka tersebut mengacu pada data Kementerian Kehutanan terkait luasan lahan kritis dan sangat kritis.

“Untuk meningkatkan produksi pangan dan biofuel lebih lanjut, kami akan menggunakan lahan terdegradasi,” kata Mari, dalam diskusi di acara yang sama. 

Menurut Mari, rencana pemanfaatan lahan tersebut telah dibicarakan dengan Kementerian Kehutanan dan Kementerian Pertanian. “Dan mereka setuju,” ujar dia. Mari pun mendorong investasi untuk mendukung pemanfaatan lahan terdegradasi tersebut untuk produksi pangan dan energi.

Mari juga menyampaikan, peningkatan produksi pangan dan energi nasional perlu memperhatikan aspek keberlanjutan dan ketahanan terhadap perubahan iklim. Maka itu, dibutuhkan benih unggul yang bisa tumbuh dalam kondisi minim air, tak perlu banyak pupuk kimia, tapi berdaya tahan tinggi.

“Benih yang bisa menghasilkan panen lebih tinggi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kondisi air yang lebih sedikit, suhu bumi yang semakin panas,” ucap dia.  

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...