Populasi Satwa Liar Dunia Turun Rata-rata 73%, Sederet Spesies Berhasil Pulih

Martha Ruth Thertina
13 Oktober 2026, 16:12
Seekor harimau Sumatera terkena jerat di ladang masyarakat di Nagari Palupuah, Agam, Sumatera Barat, Sabtu (22/11/2025). Laporan Living Planet Report 2026 yang dirilis WWF menunjukkan penurunan drastis populasi sederet satwa liar dunia, namun populasi beb
ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/rwa.
Seekor harimau Sumatera terkena jerat di ladang masyarakat di Nagari Palupuah, Agam, Sumatera Barat, Sabtu (22/11/2025). Laporan Living Planet Report 2026 yang dirilis WWF menunjukkan penurunan drastis populasi sederet satwa liar dunia, namun populasi beberapa spesies berhasil pulih berkat upaya konservasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Berbagai satwa liar dunia mengalami penyusutan populasi rata-rata sebesar 73 persen selama 1970-2022. Namun, tren ini masih bisa berbalik, terbukti dari data peningkatan populasi sederet satwa liar: jumlah harimau liar global meningkat lebih dari 70 persen dalam 15 tahun terakhir, sedangkan jumlah kakatua-kecil jambul kuning di Pulau Masakambing, Indonesia, berlipat ganda dalam satu dekade.

Temuan tersebut tercantum dalam Living Planet Report 2026 yang dirilis World Wide Fund for Nature (WWF). Laporan ini mengukur perubahan ukuran populasi satwa liar yang dipantau di berbagai wilayah dunia melalui Living Planet Index (LPI) yang disusun Zoological Society of London (ZSL).

Pengukuran dilakukan terhadap 35.803 populasi dari 5.790 spesies vertebrata yang dipantau dari waktu ke waktu, meliputi mamalia, burung, ikan, amfibi, dan reptil. LPI terkini menunjukkan penurunan 73 persen. Ini artinya, ukuran populasi-populasi tersebut mengalami penurunan rata-rata 73 persen pada rentang 1970-2022. Jadi, bukan berarti jumlah satwa liar saat ini 73 persen lebih rendah dibandingkan 1970. 

Laporan itu mencatat populasi satwa air tawar turun paling tajam yakni 85 persen, sedangkan populasi satwa darat menyusut 69 persen, dan satwa laut turun 59 persen. Sedangkan berdasarkan regional, kawasan Amerika Latin dan Karibia mencatatkan penurunan populasi satwa liar terbesar yaitu mencapai 95 persen, disusul Afrika 80 persen, dan Asia Pasifik 49 persen.

Meski begitu, hampir separuh populasi dalam indeks tidak mengalami penurunan: sebanyak 43 persen populasi justru meningkat dan 7 persen lainnya stabil. Namun, penurunan pada populasi yang menyusut lebih besar dibandingkan peningkatan pada populasi yang bertambah. Akibatnya, tren global tetap merosot.

Louise McRae dari Institute of Zoology, ZSL, yang memimpin penelitian untuk LPI, mengatakan bahwa penurunan keanekaragaman hayati membutuhkan tindakan cepat. Pemulihan populasi satwa dan habitat sudah terjadi berkat upaya bersama. “Di balik setiap statistik global terdapat bukti bahwa populasi satwa dapat pulih dan habitat dapat kembali membaik,” kata dia.

Data Peningkatan Populasi: Harimau Liar hingga Kakatua

Laporan WWF mencatat beberapa contoh pemulihan populasi satwa berkat upaya konservasi, dari mulai harimau liar, kakatua, penyu hijau, hingga tuna sirip biru. 

Populasi harimau liar global dilaporkan meningkat lebih dari 70 persen pada 2010-2025, dari sekitar 3.200 menjadi 5.700 individu. Pemulihan ini didukung berbagai upaya, termasuk rencana konservasi nasional, perluasan kawasan lindung, peningkatan kapasitas petugas penjaga, pemberantasan perdagangan satwa ilegal, serta kerja sama pemerintah dan masyarakat lokal.

Di Indonesia, populasi kakatua-kecil jambul kuning atau Cacatua sulphurea di Pulau Masakambing yang berstatus Sangat Terancam Punah atau Critically Endangered diperkirakan meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun. Peningkatan populasi antara lain berkat peraturan desa yang melarang penangkapan, kepemilikan, dan pemindahannya. Sebelumnya, spesies ini dilaporkan mengalami penurunan populasi yang cepat karena diperdagangkan sebagai burung peliharaan. 

Satwa liar lainnya yang mencatatkan peningkatan populasi adalah penyu hijau. Pada 2025, spesies ini menjadi penyu laut pertama yang status konservasinya diturunkan dari Terancam Punah atau Endangered menjadi Risiko Rendah atau Least Concern. 

Perubahan status ini seiring upaya konservasi selama sekitar 50 tahun di 80 negara tempat penyu bersarang: dari mulai perlindungan penyu betina yang tengah mengeram dan telurnya, pengelolaan pantai, pengurangan risiko penyu tertangkap alat tangkap ikan, serta penegakan hukum terhadap pengambilan penyu secara ilegal.

Pemulihan juga terjadi pada tuna sirip biru alias bluefin tuna. Populasi bluefin tuna Atlantik dilaporkan anjlok 80 persen sejak pertengahan abad 20 sehingga masuk daftar spesies Terancam Punah. Sedangkan bluefin tuna Pasifik yang bebas eksploitasi (unfished) hanya tersisa 2 persen sehingga berstatus Rentan Punah atau Vulnerable.

Saat ini, populasi keduanya telah pulih hingga tak lagi masuk kategori yang dikhawatirkan. Ini dilaporkan terjadi setelah negara dan industri memperkuat pengelolaan perikanan, mengurangi kuota tangkap, serta meningkatkan pemantauan.

Meski begitu, WWF menekankan bahwa hasil konservasi masih rentan apabila penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati tidak ditangani, yakni aktivitas manusia yang merusak alam.  

Risiko di Balik Produksi Pangan dan Energi Dunia

WWF menilai perlindungan spesies dan habitat saja tidak cukup untuk membalikkan tren kehilangan alam, diperlukan pengakhiran aktivitas yang merusak alam. 

Sistem produksi dan konsumsi pangan disebut sebagai pendorong terbesar kehilangan keanekaragaman hayati. Pertanian dan pangan berkontribusi terhadap kerusakan habitat, eksploitasi berlebihan, serta emisi gas rumah kaca.

Di sektor energi, pembakaran batu bara, minyak, dan gas menyumbang sekitar tiga perempat emisi gas rumah kaca global. Perubahan iklim yang ditimbulkannya turut memperburuk tekanan terhadap keanekaragaman hayati di berbagai ekosistem.

Sementara itu, aliran modal global masih lebih banyak mengarah pada aktivitas yang merusak alam. WWF mencatat sekitar US$7,3 triliun mengalir ke kegiatan yang merugikan alam pada 2023, dibandingkan hanya US$220 miliar untuk kegiatan yang melindungi atau memulihkannya.

WWF menyambut positif transisi hijau pada sektor energi. "Titik balik positif telah terlihat terjadi di sistem energi, dengan penurunan harga pembangkit listrik tenaga surya, angin, dan baterai penyimpanannya mendorong perubahan besar dari penggunaan bahan bakar fosil menuju energi terbarukan dan elektrifikasi di berbagai negara, termasuk Cina dan India," demikian tertulis dalam siaran pers WWF. Namun, dibutuhkan kebijakan dan investasi untuk membuat adopsinya lebih cepat di berbagai negara. 

Menurut WWF, titik balik positif lainnya yang perlu diupayakan adalah menghentikan hilangnya habitat dan kehidupan alam liar karena produksi pangan. WWF menyinggung antara lain produk yang dijual di supermarket Inggris yang turut mendorong perubahan iklim dan kerusakan alam di negara lain.

"Kedelai yang ditanam di kawasan Brasil dan Argentina yang sebelumnya merupakan habitat alami, kemudian digunakan sebagai pakan ayam di Inggris. Selama 50 tahun terakhir, populasi ayam di Inggris telah meningkat tiga kali lipat," demikian tertulis. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...