Relawan Kewalahan Hadapi Karhutla TN Tanjung Puting Kalteng, Apa Kata Kemenhut?
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) merespons surat terbuka dari para relawan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan konservasi Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Para relawan mengaku kewalahan dan meminta bantuan pemerintah.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan, sangat menghargai dedikasi para relawan dan memahami beratnya kondisi di lapangan. Masukan melalui surat terbuka, kata dia, jadi catatan penting untuk menilai kebutuhan tambahan dukungan.
“Penambahan bantuan dapat dipertimbangkan sesuai perkembangan kebakaran, kebutuhan personel dan peralatan, ketersediaan sumber air, akses lokasi, serta keselamatan petugas,” kata Ristianto kepada Katadata, pada Senin (12/10).
Dia menjelaskan, penguatan operasi pemadaman karhutla di Kalimantan telah dilakukan dengan mengerahkan personel Manggala Agni, ditambah bantuan kendali operasi (BKO).
“Sebagai gambaran, Kemenhut mengerahkan 758 personel Manggala Agni di Kalimantan, termasuk 208 personel di Kalimantan Tengah, serta menyiagakan sekitar 2.200 ASN untuk dukungan BKO khusus di Kalimantan,” ujar Ristianto.
Personel BKO di antaranya berasal dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE). Pemerintah, kata dia, juga menyediakan anggaran serta sarana dan prasarana untuk pemadaman.
Menurut dia, Balai Taman Nasional Tanjung Puting telah mengajukan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Tengah, untuk dukungan water bombing (pemadaman api dari udara dengan helikopter).
Permohonan pertama diajukan pada 9 September 2026 dan ditindaklanjuti pada 20-22 September. Pihak balai kembali mengajukan permohonan pada 2 Oktober untuk wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Permohonan diajukan kembali pada 9 Oktober untuk wilayah Pos Tanjung Harapan, Resor Pesalat.
Namun, pemadaman dari udara juga masih terkendala karena tebalnya asap yang mengurangi jarak pandang pilot. “Koordinasi dengan instansi terkait terus dilakukan agar dukungan pemadaman udara dapat dilaksanakan sesuai kondisi operasional yang memungkinkan,” ucapnya.
Relawan Sampaikan Surat Terbuka, Minta Negara Beri Bantuan Skala Besar
Sebelumnya, tim relawan pemadaman kahutla mengaku kewalahan menangani api di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Kebakaran di kawasan konservasi pertama orangutan di Tanah Air tersebut telah menghanguskan ribuan hektare lahan.
“Kami harus jujur mengakui bahwa upaya di lapangan tidak lagi cukup untuk menghadapi situasi sebesar ini,” kata seorang relawan yang mewakili tim membacakan surat terbuka, dikutip dari video yang diunggap di Instagram @moncos_thepuntal_puntal, Senin (12/10).
Para relawan yang merupakan pelaku usaha di taman nasional itu mengatakan, tim di lapangan telah berjibaku memadamkan api dengan segala kemampuan, namun api masih terus berkobar, sedangkan kemampuan tim kian terbatas. Karena itu, para relawan meminta kepada pemerintah agar segera menurunkan bantuan skala besar.
“Melalui surat terbuka ini, kami memohon kepada pemerintah untuk segera mengerahkan penanganan skala besar, termasuk water bombing, serta menambah dukungan anggaran dan logistik,” ujarnya.
Tim tidak menampik bahwa sudah ada bantuan untuk penanganan karhutla, namun belum cukup. “Kami tidak membutuhkan sekadar janji. Kami tidak membutuhkan harapan yang kembali menggantung. Kami membutuhkan tindakan nyata, sekarang,” demikian tertulis dalam keterangan video.
