Kisah Gurita Traveloka dan Upaya Menembus Bursa Amerika
Startup penyedia layanan travel dan pariwisata, Traveloka membatalkan proses pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) di Wall Street, Amerika Serikat (AS). Perusahaan dengan lambang burung godwit tersebut sempat berencana menebar sahamnya melalui special purpose acquisition company (SPAC) di bawah Bridgetown Holdings Ltd.
Rencana Traveloka untuk menjalin kesepakatan dengan Bridgetown Holdings bahkan telah mendapat restu dari co-founder PayPal Peter Thiel dan investor Hong Kong Richard Li. Melansir Bloomberg, Selasa (7/9), gagalnya rencana listing Traveloka dengan Bridgetown dikarenakan antusiasme pasar SPAC yang menurun. Sebagai gantinya, Traveloka dikabarkan bakal go public dan melakukan penawaran umum secara tradisional di AS.
SPAC atau perusahaan cek kosong (blank check companies) merupakan perusahaan non-komersial yang dibentuk untuk menyalurkan modal melalui penawaran umum perdana alias IPO. Tujuannya, untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang sudah ada di seluruh dunia.
Dewan direksi Traveloka menyampaikan kalau perusahaan itu akan kembali meninjau rencana IPO melalui Bridgetown dan SPAC, asalkan antusiasme di pasar sudah pulih. Mereka akan terus memantau perkembangan pasar hingga beberapa minggu ke depan.
“Secara umum, antusiasme di sekitar SPAC mulai surut. Kami melihat kini tidak banyak yang tertarik dengan bisnis travel dan menurut saya, itu disebabkan karena minat investor yang terbatas,” kata Dewan Direksi Traveloka yang tidak ingin disebutkan identitasnya tersebut.
Awal Mula Gurita Traveloka
PT Trinusa Travelindo atau Traveloka adalah perusahaan rintisan asal Indonesia. Perusahaan ini menyediakan akses bagi masyarakat untuk menemukan dan memesan layanan penginapan, transportasi, hingga aktivitas wisata secara daring alias online. Perusahaan ini didirikan oleh Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang pada 2012 silam.
Sebelum menjadi layanan pemesanan raksasa seperti saat ini, Traveloka telah memiliki perjalanan panjang di dunia pelayanan travel. Lahirnya perusahaan yang identik dengan warna biru dan putih tersebut berawal dari kesulitan Sang Founder, Ferry Unardi untuk memesan tiket pesawat dari Amerika ke Sumatera.
Kesulitan tersebut, kemudian dijadikan peluang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang mengalami kendala serupa. Apalagi di tengah kemudahan teknologi, kebutuhan untuk mendapatkan pelayanan transportasi yang nyaman dan cepat sudah menjadi keharusan.
Ferry Unardi lahir di Padang, Sumatera Barat pada 16 Januari 1988. Dia berhasil meraih gelar sarjana bidang Ilmu Komputer di Purdue University, AS. Tak lama setelah lulus, Ferry bekerja sebagai software engineer di salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, Microsoft.
Setelah bertahan tiga tahun di perusahaan raksasa teknologi kelolaan Bill Gates, Ferry memutuskan mundur dari pekerjaannya dan terbang ke Tiongkok untuk menemukan pemikiran baru. Ferry kemudian melanjutkan pendidikannya dan mengambil jenjang pendidikan S2 bidang Ilmu Komputer di Harvard University. Selama berkuliah, dia sempat cuti untuk fokus dalam bisnis e-ticketing di Amerika.
Singkat cerita, bersama dua rekannya, Ferry mulai menyewa sebuah apartemen di Jakarta. Bermodalkan tiga laptop, Ferry dan rekannya mulai membuat mesin pencari yang dapat membandingkan harga tiket pesawat domestik.
Pada awal berdiri, Traveloka hanya memiliki tim beranggotakan delapan orang. Jumlah yang minim tersebut dimaksimalkan ke dalam beberapa divisi seperti bagian keuangan, operasional, pemasaran, dan lainnya.
Seiring berjalannya waktu, pada 2013 Ferry melihat kebutuhan masyarakat yang meningkat, tidak sebatas mencari referensi tiket pesawat murah, melainkan juga untuk membeli tiket pesawat. Alhasil, Ferry dan rekan-rekannya memutuskan untuk mengembangkan bisnis menjadi situs layanan pemesanan pesawat.
Sebagai perusahaan yang terbilang baru merintis saat itu, tentunya banyak hal yang harus dilakukan Traveloka. Mulai dari membentuk manajemen solid, hingga mencari investor dengan visi yang sama. Ferry juga harus meyakinkan maskapai-maskapai penerbangan untuk beker jasama, sembari terus membenahi layanan pelanggan (customer service).
Berlatar belakang lulusan IT yang minim pengetahuan terkait finance, Ferry dan kedua rekannya mengaku sempat kesulitan dalam menggaet investor dan memproyeksikan model bisnisnya. Namun, kerja keras berbuah hasil, Traveloka berhasil mendapatkan pendanaan dari East Ventures dan Global Founders Capital pada 2013.
Valuasi Traveloka terus melejit. Enam tahun kemudian startup ini berhasil masuk kelas unicorn, yaitu perusahaan rintisan bervaluasi lebih dari US$ 1 miliar -sekitar Rp 14,4 triliun. Dikabarkan saat itu nilainya tembus US$ 2 miliar.
Pada Oktober tahun lalu, CBInsights mengeluarkan laporan valuasi startup di Tanah Air. Lembaga riset ini menyebutkan ada dua startup Indonesia yang mengalami penambahan valuasi. Satu di antaranya yakni Traveloka dengan nilai US$ 3 miliar.
Layanan Tiket Pesawat hingga Alat Pembayaran
Setelah dua tahun berfokus pada layanan pemesanan tiket pesawat, Traveloka secara perlahan mengembangkan bisnisnya ke ranah layanan pemesanan hotel. Per Juli 2014, layanan reservasi hotel resmi diluncurkan pada situs Traveloka. Kemudian, Agustus di tahun yang sama, Traveloka mengumumkan peluncuran aplikasi yang dapat diunduh melalui Play Store maupun App Store.
Belum genap setahun, pada April 2015 Traveloka berhasil mencatatkan satu juta unduhan. Gencar berekspansi, pada tahun yang sama Traveloka resmi merambah ke lima negara di Kawasan Asia Tenggara, yakni Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, serta Filipina.
Traveloka kemudian terus berinovasi dan menciptakan produk baru, tidak hanya fokus pada layanan travel, juga pada produk pelayanan lifestyle lainnya termasuk di bidang keuangan, reservasi berbagai aktivitas lokal dan direktori kuliner. Traveloka juga berkolaborasi dengan beberapa perusahaan keuangan untuk menyediakan fitur pay later.
Hingga Juni 2021, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BRI telah menyalurkan kredit melalui layanan Traveloka pay later sebanyak Rp 556,8 miliar. Adapun, jumlah penggunanya tembus 49.053 orang dengan outstanding mencapai Rp 433,7 miliar.
Teranyar, Senin (13/9) perusahaan resmi memperkenalkan Traveloka PayLater Virtual Card Number. Manajemen mengklaim ini merupakan metode pembayaran cicilan terbaru yang pertama tersedia di Asia Tenggara. Menariknya, pengguna Traveloka Paylater ini tidak hanya bertransaksi di Traveloka, juga di berbagai platform e-commerce lainnya. Dalam menghadirkan Traveloka PayLater Virtual Card Number, perusahaan bekerja sama dengan PT Bank Negara Indonesia Tbk alias BNI.
Penyumbang bahan: Nada Naurah (Magang)

