Banyak Tekanan Global dan Domestik, IHSG Terkoreksi 0,75% Siang Ini

Happy Fajrian
18 Desember 2018, 13:30
Papan Bursa Efek Indonesia
Agung Samosir | KATADATA
Suasana grafik bursa saham di Jakarta.

Menutup perdagangan sesi pertama siang ini, Selasa (18/12), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sebesar 0,75% ke posisi 6.043,77. Bahkan IHSG sempat turun ke posisi 6.014,79 karena banyaknya tekanan baik dari lingkungan domestik maupun global.

Tidak hanya IHSG, seluruh bursa Asia memerah pada siang ini. Strait Times Index yang naik paling tinggi pada perdagangan kemarin, kali ini turun paling dalam sebesar 2,01%. Nikkei, Hang Seng, Shanghai Composite, PSEi Filipina, juga terkoreksi lebih dari 1%. Nikkei turun 1,72%, Hang Seng turun 1,15%, Shanghai turun 1,11%, dan PSEi Filipina turun 1,59%.

Kejatuhan IHSG siang hingga siang ini didorong oleh 253 saham yang mengalami penurunan, dan 104 saham yang naik sedikit menahan penurunan indeks lebih dalam. Investor asing konsisten memberikan tekanan terhadap indeks dengan terus melego sahamnya di Indonesia. Hingga siang ini investor asing melakukan jual bersih mencapai Rp 338,52 miliar.

(Baca juga: Hingga November 2018, Defisit Neraca Perdagangan Indonesia Terdalam Sepanjang Sejarah)

Nilai transaksi saham mencapai Rp 5,16 triliun dari 7,95 miliar saham yang diperdagangkan. Sembilan dari sepuluh indeks sektoral mengalami koreksi sejalan dengan pergerakan indeks di zona merah. Hanya sektor industri dasar yang selamat hingga siang ini dengan mengalami kenaikan 0,21%.

Sementara itu sektor yang paling buntung hingga siang ini yaitu sektor properti yang terkoreksi 1,4%, dan tambang yang terkoreksi 1,08%. Kemudian keuangan turun 0,94%, konsumer turun 0,92%, perdagangan turun 0,67%, pertanian yang kemarin berjaya kini terkoreksi 0,63%, manufaktur turun 0,53%, infrastruktur turun 0,49%, dan aneka industri turun 0,34%.

Saham-saham yang merugi siang ini dari jajaran top losers di antaranya saham Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPS) yang turun 3,83% menjadi Rp 1.760 per saham, Summarecon Agung Tbk (SMRA) turun 3,59% menjadi Rp 805, Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) turun 3,54% menjadi Rp 545.

Sedangkan dari jajaran top gainers yang berhasil melawan arus penurunan indeks di antaranya saham Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK) yang melesat 15,33% menjadi Rp 1.655 per saham, Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) naik 4,40% menjadi Rp 11.875, serta saham Bank Permata Tbk (BNLI) yang kabarnya sedang diminati investor asal Jepang, sahamnya naik 4,31% menjadi Rp 605.

(Baca: Sri Mulyani Lihat Sektor Properti Hadapi Dua Tantangan Tahun Depan)

Tekanan terhadap bursa-bursa global hari ini berasal dari kekhawatiran investor yang memuncak terkait melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Data-data ekonomi yang dirilis Tiongkok dan Amerika Serikat menunjukkan perekonomian kedua negara tersebut melambat.

Bahkan ada indikasi ekonomi AS mulai memasuki resesi dengan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang atau inverted yield curve. Secara historis inverted yield curve merupakan indikator dimulainya resesi yang sangat akurat sejak 1955.

Kekhawatiran investor terkait melambatnya pertumbuhan ekonomi global mengalahkan optimisme yang lahir dari proses negosiasi dagang antara AS dan Tiongkok yang mulai menemukan titik terang dari kedua belah pihak.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...