IHSG Anjlok 2,2% Jadi 6.639 Hari Ini, Sektor Teknologi Koreksi Tajam

Patricia Yashinta Desy Abigail
4 Juli 2022, 18:27
IHSG
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.
Karyawan berjalan di dekat layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/6/2022).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,28% atau 155 poin ke level 6.639 pada penutupan perdagangan Senin (4/7) hari ini, dari level penutupan Jumat (1/7) lalu, 6.794. Semua indeks sektoral berada di zona merah dipimpin oleh sektor teknologi terkoreksi 4,00%. 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks saham dibuka di level 6.782 dengan rentang pergerakan 6.559-6.784 sepanjang hari.

Data perdagangan menunjukkan, nilai transaksi hari ini mencapai Rp 13,14 triliun dengan volume sebanyak 20,12 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1,12 juta kali. 

Terdapat 109 saham bergerak naik, 460 saham melemah dan 199 saham lainnya bergerak stagnan. Nilai kapitalisasi pasar IHSG menyusut menjadi Rp 8.735,21 triliun.

Adapun bursa saham di kawasan Asia berada di zona hijau dan merah. Indeks Nikkei 225 menguat sebesar 0,84%, Shanghai Composite menguat 0,53%, Strait Times naik 0,78%. Sedangkan bursa saham Asia yang berada di zona merah yaitu, Hang Seng turun 0,13%, indeks Composite Indonesia dan indeks LQ45 Indonesia anjlok masing-masing sebesar 2,28% dan 2,48%. 

Lalu, semua indeks sektoral berada di zona merah dipimpin oleh sektor teknologi terkoreksi 4,00%. Adapun, saham sektor teknologi yang anjlok yakni PT DCI Indonesia Tbk (DCII) terkoreksi sebesar 6,62% atau 2.550 poin menjadi Rp 36.000 per saham, PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) turun 5,59% atau 425 poin menjadi Rp 7.175 per saham, dan PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS) turun 6,89% atau 330 poin menjadi Rp 4.460 per saham.

Sektor yang juga terkoreksi yakni, sektor keuangan turun 2,58%, sektor turun 0,78%, sektor industri turun 1,12%, sektor properti turun sebesar 1,78%, sektor energi terkoreksi 0,46%, dan sektor primer terkoreksi 1,66%, sektor kesehatan 1,47%, sektor infrastruktur 1,20%, dan sektor non primer 2,66%.

KB Valbury Sekuritas dalam risetnya mengatakan, turunnya IHSG karena inflasi yang terjadi di Indonesia membayangi dan menekan pasar. Angka inflasi lebih tinggi dibandingkan angka rentang atas proyeksi Bank Indonesia. Hal ini dipengaruhi komoditas volatile food, terutama dari cabai. Sebelumnya, BI mengatakan menggunakan basis inflasi sebagai faktor utama untuk menetapkan suku bunganya.

“Di sisi lain, kendati inflasi cenderung meningkat, tetapi kami memperkirakan angka inflasi tahun ini masih berada dalam level terkendali,”kata pihak Valbury Sekuritas. 

Selain itu, gejolak global juga belum reda terutama terkait dengan kekhawatiran mengenai inflasi di Eropa yang masih memuncak. Serta pemicu stagflasi dari ketegangan di Eropa yakni kubu NATO dan Rusia yang masih memanas.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Patricia Yashinta Desy Abigail
Editor: Lavinda

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...