Memperkuat Daya Tahan Pasar Modal di Tahun Turbulensi

Syahrizal Sidik
23 November 2023, 15:53
Memperkuat Daya Tahan Pasar Modal di Tahun Turbulensi
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Pengunjung mengamati pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

Kinerja pasar modal domestik di tahun ini masih diselimuti sejumlah tantangan. Di tengah derasnya aliran modal asing keluar yang sejak awal tahun sampai dengan 23 November ini mencapai Rp 16,10 triliun, membuat laju Indeks Harga Saham Gabungan cenderung bergerak sideways, alias tetap bergerak stagnan di bawah level psikologis 7.000.

Hingga penutupan perdagangan Selasa, 22 November 2023 kemarin, IHSG ditutup pada level 6.908, mencerminkan imbal hasil 0,82% sejak awal 2023. Di tahun ini, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 7.016 poin pada September dan terendahnya di level 6.565 pada Maret.

Ini lebih baik dibanding kinerja bursa saham negara tetangga seperti bursa Malaysia yang terkoreksi 2,65%, bursa Filipina jatuh 4,77%, bursa Singapura melemah 4,20% dan bursa Thailand anjlok hingga 15,30%. Hanya bursa Vietnam yang sejak awal tahun memberikan imbal hasil 10,60%.

Tak pelak, situasi ini membuat beberapa perusahaan sekuritas tidak memasang target ambisius pada kinerja IHSG. Head of Equity Research, Strategy, Consumer Mandiri Sekuritas Adrian Joezer, menuturkan di tahun ini Mandiri Sekuritas merevisi target IHSG dari sebelumnya 7.510 pada proyeksi awal tahun menjadi hanya 7.180 dengan target rasio harga saham terhadap pendapatan perusahaan atau P/E di bursa domestik sebanyak 13,6 kali. 

Pemangkasan itu lantaran IHSG menghadapi volatilitas di semester kedua tahun ini. Salah satu penyebabnya adalah hasil yang mengecewakan dari sisi perbaikan pertumbuhan ekonomi di pasar negara berkembang. “Jadi yang kami revisi lebih ke arah valuasinya, sebab kami naikkan penyesuaian risiko ke 5%," ucap Adrian.

Turbulensi pasar modal di tahun 2023 sebelumnya pernah diramalkan perusahaan penasihat investasi global, Morningstar. Dalam publikasinya, Morningstar menyebut, pasar akan tetap bergejolak dalam jangka pendek, terutama karena ekonomi diperkirakan tumbuh stagnan atau mengalami resesi pada paruh pertama tahun 2023. 

"Kombinasi pemulihan ekonomi, inflasi yang moderat, dan prospek kebijakan moneter yang lebih lunak pada paruh kedua tahun 2023 diharapkan akan mengarah pada pemulihan pasar,” tulis riset Morningstar, dikutip Kamis (23/11).

Di sisi lain, The Federal Reserve telah mengencangkan kebijakan moneternya sebagai respons terhadap inflasi yang tinggi. Dalam risalah terbaru, The Fed diperkirakan belum memberi sinyal penurunan suku bunga. Tidak mengherankan, arus modal yang sedianya masuk ke pasar emerging berbalik ke negara maju.

"Pasar keuangan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sulit diprediksi, dan hasil aktual dapat berbeda dari prediksi.”

Optimis Namun Tetap Waspada

Menyikapi masih tingginya ketidakpastian global dan tantangan pasar saham, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman optimistis, pada tahun ini, kinerja bursa saham akan tetap bertumbuh.

Motor penggerak pertumbuhan itu berasal dari dua aspek, baik dari sisi emiten sebagai supply maupun pertumbuhan investor dari sisi demand. Semakin banyak perusahaan yang listing, ada potensi harga sahamnya naik, sehingga indeksnya bisa naik. 

Pada tahun ini saja, BEI menargetkan pencatatan 57 emiten baru dan sudah melampui target. Sebagai catatan, sampai dengan 23 November 2023 ini, jumlah perusahaan yang melantai di bursa ada sebanyak 77 perusahaan tercatat dengan raihan dana terhimpun melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering/IPO sebanyak Rp 53,84 triliun.

Menyebut beberapa emiten dengan emisi jumbo di tahun ini misalnya PT Amman Mineral Tbk (AMMN) Rp 10,73 triliun, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) Rp 10 triliun, hingga PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp 3,13 triliun.

Yang menggembirakan, riset dari Deloitte memaparkan, pasar IPO di kawasan Asia Tenggara menjadi favorit investor di tengah terjadinya perlambatan IPO global pada paruh pertama tahun 2023. Terdapat 85 perusahaan yang melakukan aksi korporasi IPO dan mengumpulkan dana $ 3,3 miliar atau sekitar Rp 51,31 triliun pada enam bulan pertama tahun ini. Sebanyak 70% penawaran umum itu dikontribusi dari perusahaan asal Indonesia.

Iman juga meyakini, jumlah investor pasar modal terus bertambah. Sepanjang 2020 hingga 2022 mendominasi secara komposisi investor, baik ritel maupun institusi saat ini, sekitar 67%. “Di 2023, kami optimistis walaupun tetap dengan kondisi waspada,” ucapnya, dalam wawancara khusus dengan Katadata.co.id, Kamis (16/2) di Gedung BEI, Jakarta.

Iman bahkan menyebut, ada sejumlah sektor yang berpotensi mencatatkan pertumbuhan kencang seperti saham-saham sektor teknologi. Kenaikan sektor ini hampir 12% pada awal 2023. Lalu diikuti dengan transportasi dan logistik yang tumbuh 8%. Tentu saja sektor konsumen non-primer yang naik 6%. “Sektor perbankan pertumbuhannya 1,20%. Tetapi nilai kapitalisasi pasarnya sangat besar, menopang IHSG,” tuturnya.

Memperluas Variasi Instrumen

Dengan menyeimbangkan faktor dari sisi supply maupun demand inilah, pasar saham Indonesia masih akan memiliki daya tahan, sekalipun menghadapi guncangan ketidakpastian dari sisi eksternal.

Di sisi lain, otoritas bursa terus melakukan upaya pendalaman pasar dengan memperbanyak variasi instrumen investasi, seperti misalnya peluncurkan produk investasi kontrak berjangka saham atau single stock futures yang rencananya dijadwalkan pada kuartal pertama 2024 mendatang.

“Kami akan menerbitkan single stock futures. Kami mengharapkan itu bisa menjadi pilihan alternatif bagi investor,” ujar Iman.

Bukan tidak mungkin, dalam beberapa tahun depan, apa yang dicanangkan dalam Peta Jalan Pasar Modal Indonesia 2023-2027 bakal tercapai. Terdapat lima target besar yang akan dicapai dalam roadmap tersebut, yakni dari sisi kapitalisasi pasar akan mencapai Rp 15.000 triliun atau setara 70% dari produk domestik bruto (PDB). Lalu, jumlah investor pasar modal akan mencapai lebih dari 20 juta pada 2027 mendatang.

Roadmap Pasar Modal 2023-2027
Roadmap Pasar Modal 2023-2027 (Tangkapan Layar/Katadata)

Sebab, pada saat ini, kontribusi kapitalisasi pasar modal Indonesia terhadap PDB masih di bawah 60%, belum seperti Malaysia maupun Singapura yang sudah mencapai 87% total PDB-nya per Juli 2023. Sedangkan, Thailand sudah mencapai 106% dari nilai PDB negaranya.

Sementara, dari sisi rerata nilai transaksi harian bursa ditargetkan mencapai Rp 25 triliun per hari dengan 1.100 jumlah emiten di akhir 2027 mendatang. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi memaparkan, dalam mencapai target itu tentu ada sejumlah tantangan yang akan dihadapi, terutama dalam menjaga stabilitas dan upaya meningkatkan pertumbuhan industri pasar modal.

“Peluang pengembangan instrumen pasar modal yang beragam bersifat lintas industri memberikan kesempatan bagi investor untuk memperluas investasi dan meningkatkan likuiditas pasar,” ungkapnya.

Pasar modal, kata dia, juga bisa ikut ikut andil dalam potensi pembiayaan pembangunan nasional. Inarno mengatakan kebutuhan pendanaan proyek prioritas strategis berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2022-2024 dari sektor swasta diperkirakan sebesar Rp 2.813 triliun atau mencapai 44,71% dari total kebutuhan pembiayaan sebesar Rp 6.293 triliun.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...