Harga Saham Emiten Toto Sugiri (DCII) Sentuh Rp 80 Ribu, BEI Sematkan Status UMA

Ringkasan
- Kementerian Komdigi menggelar FGD dengan anak-anak sekolah untuk merumuskan kebijakan perlindungan anak di ruang digital, untuk memahami pengalaman dan tantangan mereka.
- Anak-anak menghadapi tantangan seperti akses konten negatif, tekanan sosial, dan minimnya pendampingan orang tua dalam membentuk kebiasaan digital yang sehat.
- Regulasi yang disusun harus diimbangi dengan edukasi keluarga untuk menciptakan ekosistem digital yang aman dan ramah anak, termasuk edukasi tentang dampak media sosial terhadap kesehatan mental.

Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan status unusual market activity atau UMA kepada saham emiten data center PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Notifikasi itu dikeluarkan setelah terjadinya peningkatan harga saham di luar kebiasaan.
Penyematan status UMA diberikan BEI pada Jumat (21/2). Merujuk data perdagangan di Bursa Efek Indonesia, hingga pukul 9.30 WIB saham DCII melesat 19,97% atau 13.425 poin ke level Rp 80.650 per saham. Padahal pada saat pembukaan pasar harga saham DCII masih di Rp 74.000 per saham.
Dalam lima hari terakhir harga saham DCII sudah naik 71%. Pada perdagangan Senin (17/2) harga saham DCII stagnan di Rp 47.000 dan berlanjut hingga Selasa (18/2). Pergerakan saham baru terjadi setelah muncul kabar stock split atau pemecahan saham.
Kenaikan ini menjadikan saham DCI Indonesia sebagai saham termahal di pasar modal Indonesia. DCI Indonesia belum memberikan penjelasan atas notifikasi khusus dari BEI ini. Namun sebelumnya, CEO PT DCI Indonesia Tbk (DCII) Otto Toto Sugiri menjelaskan soal peluang stock pemecahan saham perusahaan atau stock split di Bursa Efek Indonesia.
Pernyataan itu berkaitan dengan harga saham perusahaan yang sangat tinggi sehingga tidak likuid. "Sedang kami jajaki (untuk stock split saham)," kata Otto menanggapi rencana aksi korporasi perusahaan saat ditemui di sela-sela acara IDE Katadata 2025, Selasa (18/2).
Menanggapi soal kemungkinan stock split, Senior Investment Information Mirae Asset Nafan Aji Gusta menjelaskan DCI terus mengalami tren kenaikan harga. Hal ini membuat price to earning (PE) atau rasio harga pendapatan dan price to book value (PBV) alias rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan sudah sangat premium. Selain itu tentunya melebihi dari rata-rata industrinya.
"Jadi memang pertimbangan untuk melaksanakan stock split itu juga harus dilakukan untuk meningkatkan likuiditas sahamnya," kata Nafan, Jumat (21/2).
Nafan menilai pemecahan saham ini juga bisa menciptakan harga saham yang menarik untuk para pelaku investor khususnya investor retail.