Wall Street Rontok Gara-gara Kebijakan Tarif Trump, Ada Kekhawatiran Resesi

Agustiyanti
4 April 2025, 07:22
Wall Street, pasar saham, trump, tarif trump
Wall Street
Wall Street rontok pada perdagangan Kamis (3/4) dengan persentase kerugian satu hari terbesar sejak 2020.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street rontok pada perdagangan Kamis (3/4) dengan persentase kerugian satu hari terbesar sejak 2020 usai pengumuman kebijakan tarif impor besar-besaran Presiden AS Donald Trump. Pelaku pasar  khawatir akan ada perang dagang habis-habisan yang akan memicu resesi ekonomi global.

Indeks saham S&P 500 kehilangan 275,05 poin atau 4,85% dan berakhir pada 5.395,92 poin, sedangkan Nasdaq Composite (.IXIC) anjlok 1.053,60 poin atau 5,99% menjadi 16.547,45 dan Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 1.682,61 poin, atau 3,98%, menjadi 40.542,71.

Para investor meninggalkan aset-aset berisiko dan mencari aset aman seperti obligasi pemerintah setelah Trump mengenakan tarif sebesar 10% pada sebagian besar impor AS dan mengenakan pungutan yang jauh lebih tinggi pada puluhan negara lainnya termasuk Indonesia. 

Kebijakan tarif ini dinilai banyak analis dapat mengganggu tatanan perdagangan global dan menyoroti perubahan mencolok dari beberapa bulan yang lalu ketika Trump menjanjikan kebijakan yang ramah bisnis sehingga mendorong saham AS ke rekor tertinggi.

Investor berada pada  posisi jual, mencerminkan realitas ekonomi baru tentang kekhawatiran tentang bagaimana negara lain akan bereaksi terhadap proklamasi Trump.Cina bersumpah akan melakukan pembalasan, seperti yang dilakukan Uni Eropa, yang menghadapi bea masuk sebesar 20%.

Korea Selatan, Meksiko, India dan beberapa mitra dagang lainnya mengatakan mereka berusaha untuk melakukan negosiasi sebelum tarif yang ditargetkan berlaku pada tanggal 9 April.

Hari-hari mendatang diperkirakan akan penuh gejolak, seiring terungkapnya berbagai peristiwa dan dampak penuh tindakan ekonomi Trump yang mulai terasa pada perekonomian yang lebih luas. Indeks Volatilitas CBOE (.VIX)  yang dikenal sebagai pengukur kekhawatiran Wall Street, menyentuh titik tertinggi tiga minggu.

"Masih banyak pertanyaan daripada jawaban di sini," kata Steven DeSanctis, ahli strategi kapitalisasi kecil dan menengah di Jefferies Financial Group.

Saham teknologi yang sempat melambung tinggi beberapa waktu terakhir mengalami penurunan besar.  Harga saham Apple (AAPL.O) anjlok, terhuyung-huyung akibat tarif gabungan sebesar 54% terhadap Cina, basis bagi sebagian besar manufaktur pembuat iPhone. Harga saham  Nvidia (NVDA.O) dan Amazon.com (AMZN.O) juga ikut jeblok. 

Saham AS telah melemah sejak Trump menjabat pada Januari.  S&P 500 dan Nasdaq telah turun 10% dari rekor tertinggi bulan lalu karena investor memperhitungkan kerusakan ekonomi akibat kebijakan tarif impor Trump.

Para pelaku pasar pun  meningkatkan ekspektasi terhadap The Federal Reserve untuk memangkas suku bunga empat kali tahun ini, dimulai dengan pemangkasan seperempat poin pada Juni. "The Fed memang punya kekuatan besar untuk membantu pasar," kata George Bory, kepala strategi investasi untuk tim pendapatan tetap di Allspring Global Investments.

Ia menilai, pelaku pasar kini memperkirakan penurunan suku bunga The Fed lebih lanjut dan mungkin lebih cepat. Pelonggaran kebijakan pada Juni semakin pasti dengan peluang penurunan suku bunga juga terlihat pada Mei. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...