Kebut Rp 200 Triliun di Pasar Modal, Begini Siasat OJK Kerek IPO Jumbo
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan siasat untuk menjaring perusahaan besar atau jumbo melalui penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, mengatakan OJK siap membuka diri dan mengambil pendekatan inklusif untuk mendorong lebih banyak perusahaan melakukan IPO.
Menurutnya, kehadiran Badan Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi peluang besar dalam memperdalam pasar modal, terutama dari sisi penambahan pasokan. Inarno mengatakan potensi perusahaan-perusahaan berkualitas, termasuk anak usaha, untuk melantai di BEI melalui Danantara sangat besar.
“Jadi kami upayakan segala cara bagaimana cara untuk meningkatkan pendalaman pasar dengan adanya Danantara atau apapun, itu akan lebih mudah juga untuk kami dorong untuk masuk ke pasar modal,” kata Inarno ketika ditemui wartawan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (8/4).
Terkait fokus IPO, Inarno menegaskan pihaknya tidak hanya akan mendorong anak usaha BUMN, tetapi juga seluruh perusahaan yang punya potensi. Salah satu langkah konkret yang diambil, kata Inarno, melalui keberadaan Danantara sebagai platform untuk mendorong lebih banyak perusahaan masuk ke pasar modal.
Meski demikian, Inarno belum mengungkap secara rinci daftar pipeline IPO berskala besar, namun ia memastikan kondisinya masih cukup menjanjikan. “Kami masih cukup optimis untuk fundraise-nya itu tetap di Rp200 triliun, kami optimistis bisa tercapai,” ujarnya.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan penghimpunan dana di pasar modal melalui penawaran umum mencapai Rp175 triliun sampai dengan Rp200 triliun pada 2024.
Di samping itu, Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menegaskan bahwa kehadiran Danantara punya peran penting dalam menekan potensi arus keluar dana asing (outflow) dari pasar modal domestik di Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurutnya, Danantara merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat struktur pasar sekaligus meningkatkan likuiditas di pasar modal dalam negeri.
“Komitmen bersama untuk pasar modal kita menjadi jauh lebih kuat, menjadi jauh lebih stabil, juga meningkatkan likuiditasnya dan merupakan komitmen bersama,” kata Mahendra kepada wartawan di BEI, Jakarta, Selasa (8/4).
Selain itu, Mahendra berharap kehadiran Danantara dapat mendorong kenaikan transaksi di pasar modal domestik. Meski belum mengkaji terkait dampak positif Danantara terhadap pasar, ia optimistis langkah ini akan memperkuat pasar modal dari berbagai sisi transaksi.
“Tapi saya tidak masuk rinci dulu, mungkin lebih baik kita lakukan tindak lanjut dan operasinya sampai level teknis sebelum kami bisa sampaikan penjelasan lebih detailnya,” ucapnya.
