Mengintip Harga Saham Konstituen MSCI, Bagaimana Pergerakan CUAN hingga DSSA?
Mayoritas harga saham emiten-emiten yang masuk dalam daftar konstituen hasil tinjauan atau rebalancing indeks bergengsi Morgan Stanley Capital International (MSCI) per Agustus 2025 terpantau naik hari ini. Hal ini seiring mulai berlakunya rebalancing indeks bergengsi tersebut pada hari ini, Rabu (27/8).
Dua saham yang berhasil masuk ke dalam MSCI Global Standard Indexes, yakni emiten milik konglomerat RI Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan emiten milik Grup Sinarmas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menghijau. Harga saham DSSA naik 3,70% atau 3.350 poin ke level 93.925, sedangkan saham CUAN justru merosot 3,24% atau 55 poin ke posisi 1.645 pada pembukaan perdagangan saham pukul 9.01 WIB.
Sementara itu, harga saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang didepak dari indeks global dan kini masuk ke dalam daftar Small Cap Indexes juga melesat. Harga aham ADRO naik 3,75% atau 65 poin ke level 1.800. Adapun lima emiten lainnya yang juga ditambahkan ke dalam MSCI Small Cap Indexes terpantau naik.
Harga saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) turun 3,44% atau 250 poin ke level 7 025, PT MNC Land Tbk (KPIG) turun 2,78% atau 6 poin ke level 210. PT Petrosea Tbk (PTRO) naik 0,25% atau 10 poin ke level 4.020, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) stagnan di level 6.625 dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) terkoreks2,41% atau 35 poin ke level 1.415.
MSCI selanjutnya akan merilis hasil tinjauan berkala indeks global untuk periode November 2025 pada 5 November mendatang dan mulai berlaku secara efektif pada 25 November 2025.
Indeks MSCI adalah indeks yang dirancang oleh Morgan Stanley Capital International untuk mencerminkan pergerakan harga saham dalam berbagai kategori, termasuk emiten di negara maju dan berkembang.
Prospek Emiten yang Masuk MSCI
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyoroti potensi arus dana masuk atau inflow dan pola pergerakan DSSA dan CUAN. Ia menyebut masuknya DSSA & CUAN ke dalam MSCI Global Standard Index berpotensi memicu aliran dana masuk signifikan dari institusi global.
Berdasarkan historis kasus serupa, Liza menilai saham-saham yang masuk ke indeks ini umumnya mengalami lonjakan volume dan harga dalam 1–2 minggu sebelum tanggal efektif akibat aksi front-running oleh investor ritel dan dana aktif. Namun, mendekati tanggal implementasi, pergerakan harga biasanya menjadi fluktuatif karena aksi ambil untung (sell on news).
Front running adalah praktik ilegal pembelian saham berdasarkan informasi non-publik awal mengenai transaksi besar yang diperkirakan akan memengaruhi harga.
“Berdasarkan pengamatan terakhir Kiwom Research, Foreign net buy telah masuk ke IHSG (all market) selama 3 hari terakhir (6-8 Aug) sebesar Rp 1,65 triliun,” ucap Liza dalam risetnya, Jumat (8/8).
Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai ,lolosnya DSSA dan CUAN masuk ke MSCI Global didorong oleh beberapa faktor utama. Pertama, lonjakan kapitalisasi pasar yang signifikan dalam 12 bulan terakhir. Kedua, perbaikan likuiditas perdagangan, terutama pada saham CUAN setelah mencatat kenaikan harga tajam di semester pertama 2025. Ketiga, struktur kepemilikan publik dan free float yang kini sesuai dengan kriteria MSCI.
Selain itu, Kiwoom Sekuritas menyebut DSSA unggul lewat kepemilikan aset energi terbarukan melalui PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) dan PLTU. CUAN menunjukkan ekspansi agresif melalui peningkatan aset batu bara dan penambahan cadangan eksplorasi.
Lebih jauh, Kiwoom Sekuritas menyebut apabila semakin banyaknya emiten Indonesia yang masuk ke indeks global seperti MSCI akan berdampak positif terhadap reputasi Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai pasar yang layak untuk dijadikan tujuan investasi.
Dampak positif ini antara lain mencakup naiknya minat terhadap IPO di sektor-sektor strategis hingga dorongan untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan dan tata kelola perusahaan. Tak hanya itu, adanya perluasan partisipasi investor institusi asing seiring membesarnya porsi Indonesia dalam portofolio global sebagai negara yang dianggap investable.
“Namun demikian, agar ini terjadi lebih luas, BEI perlu aktif mendampingi emiten baru dalam membangun struktur free float, governance, serta pelaporan yang kompatibel dengan kriteria indeks global,” ucap Liza.
