Purbaya Sebut Dirut Bank Pusing Terima Rp 200 T, Ini Kata Para Bos Himbara
Bank-bank penerima dana Rp 200 triliun dari pemerintah buka suara soal dampak penempatan dana tersebut terhadap kondisi likuiditas mereka. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat menduga para direktur utama bank-bank BUMN justru pusing menerima penempatan dana tersebut.
"Sekarang saya duga, dirut bank justru pusing mau menyalurkan ke mana? Tapi saya pikir, kalaupun mereka belum bisa menyalurkan, mereka punya uang lebih dan tidak akan perang bunga lagi, suku bunga akan cenderung turun dan dapat berdampak ke pertumbuhan ekonomi." ujar Purbaya dalam konferensi pers, awal pekan ini.
Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI Anggoro Eko Cahyo menyatakan, pihaknya mengapresiasi langkah pemerintah menempatkan dana jumbo tersebut di perbankan. Menurut dia, kebijakan ini bisa mengurangi tekanan likuiditas akibat ketidakpastian global.
“Dengan penempatan dana oleh Kementerian Keuangan, kondisi likuiditas bank akan makin baik sehingga perseroan dapat menurunkan Financing to Deposit Ratio (FDR) sekitar 2–3% ke level 86%,” ujar Anggoro kepada Katadata.co.id, Selasa (16/9).
BSI menerima alokasi dana Rp 10 triliun dari program ini. Anggoro menilai tambahan likuiditas akan memperkuat FDR sekaligus meningkatkan kemampuan perseroan dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor riil. Apalagi, tekanan terhadap FDR mulai mereda setelah penurunan BI Rate pada Agustus 2025.
“Dana ini akan kembali ke masyarakat dalam bentuk fasilitas pembiayaan untuk program pemerintah seperti Kopdes Merah Putih, rumah bersubsidi, program Makan Bergizi Gratis, serta Kredit Usaha Rakyat (KUR),” katanya.
Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang memperoleh alokasi terbesar senilai Rp 55 triliun menyatakan siap mengoptimalkan suntikan dana tersebut. Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini menuturkan, likuiditas ekstra memberi ruang lebih luas bagi perseroan untuk menyalurkan kredit ke sektor prioritas.
“Dengan tambahan Rp 55 triliun, kapasitas pembiayaan kami semakin kuat untuk menopang sektor produktif yang meningkatkan daya saing ekspor, memperluas lapangan kerja, sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan,” kata Novita dalam keterangan resminya, Selasa (16/9).
Melalui dana tersebut Bank Mandiri berkomitmen akan memfokuskan pembiayaan ke sektor strategis, seperti perkebunan dan ketahanan pangan, hilirisasi sumber daya alam dan energi terbarukan, infrastruktur, layanan kesehatan, manufaktur, kawasan industri hingga UMKM.
“Dengan dukungan Rp 55 triliun ini, kami optimistis memperkuat fungsi intermediasi, memperbesar kapasitas pembiayaan, serta meningkatkan kontribusi terhadap proyek strategis nasional,” ujar Novita.
Direktur Utama Bank PT Bank Tabungan Negara (BTN), Nixon L.P Napitupulu juga optimistis dana pemerintah sebesar Rp 25 triliun yang mereka peroleh bisa tersalurkan hingga akhir 2025.
"BTN akan mengoptimalkan pengelolaan dana pemerintah tersebut, " kata Nixon di Jakarta, Selasa malam (17/9). Nixon mengatakan dana tersebut memberikan dukungan likuiditas kepada bank-bank milik negara. BTN akan menyalurkan dana pemerintah tersebut ke kredit di sektor riil.
Nixon mengatakan dana tersebut memberikan dukungan likuiditas kepada bank-bank milik negara. BTN akan menyalurkan dana pemerintah tersebut ke kredit di sektor riil. "Secara total, pinjaman dan pembiayaan diproyeksikan tumbuh 11,14% tahun ini
Harga Saham Bank Himbara Masih Merah
Sejak Purbaya menyampaikan opsi penempatan dana ke Kopdes Merah Putih, sebagian saham-saham bank Himbara penerima dana pemerintah bertengger di zona merah hingga hari ini.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia hari ini, Rabu (17/9) pukul 09.18 WIB, harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 0,22% atau 10 poin ke level 4.470, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 0,46% atau 20 poin ke level 4.350, PT Bank Syariah Nasional Tbk (BRIS) turun 0,38% atau 10 poin ke level 2.630.
Sementara itu, harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 0,73% atau 30 poin ke level 4.160 dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) naik 0,37% atau 5 poin ke level 1.350.
Meski begitu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menilai, koreksi harga saham bank ini justru menjadi peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi (accumulative buy).
“Sejatinya saham-saham perbankan, terutama empat bank besar sedang berada dalam fase akumulasi. Jadi, arah pasar ke depan masih dalam tren naik (uptrend),” kata Nafan saat dihubungi Katadata.co.id, Senin (15/9).
Nafan menerangkan, penempatan dana sebesar Rp 200 triliun oleh pemerintah ke lima bank Himbara merupakan strategi untuk memperkuat likuiditas perbankan, sehingga bank dapat menyalurkannya ke Kopdes Merah Putih. Dengan begitu, Kopdes Merah Putih bisa memperoleh pendanaan dengan biaya lebih ringan.
Apalagi, menurut dia, Purbaya memastikan bank-bank BUMN akan mendapatkan margin atau keuntungan yang cukup jika menyalurkan dana dari penempatan dana pemerintah ke koperasi desa merah putih. Bank BUMN hanya perlu memberikan suku bunga sebesar 2% atas penempatan dana pemerintah yang disalurkan ke kopdes, dibandingkan sebelumnya 4%.
Namun, Nafan menerangkan, penyaluran dana tersebut bersifat selektif. Tujuan utama pemerintah adalah memastikan dana benar-benar tersalurkan ke sektor produktif yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kalau penyaluran dana diarahkan ke sektor-sektor produktif, menurut saya itu akan memberikan benefit,” ujar Nafan.
Sementara itu, Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai, suntikan dana ke bank Himbara jelas akan berdampak positif ke sistem keuangan secara keseluruhan, termasuk emiten pasar modal.
“Dengan penempatan dana jumbo oleh Kemenkeu, bank punya ruang lebih luas untuk ekspansi kredit tanpa terlalu tertekan cost of fund,” kata Wafi.
Menurut dia, penyaluran dana ini dapat mempercepat penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas, termasuk industri, konstruksi, pertanian, hingga Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Tak hanya itu, aliran kredit yang lebih deras ini akan membantu dorong pemulihan ekonomi riil dan berimbas ke kinerja sektor riil di BEI.
Dengan likuiditas yang lebih longgar, menurut dia, bank cenderung akan menawarkan suku bunga kredit yang lebih kompetitif. Ini bisa jadi alternatif yang menarik dibandingkan penerbitan obligasi di tengah kondisi yield Surat Berharga Negara yang masih tinggi.
Dia melanjutkan, bagi emiten yang butuh belanja modal besar, misalnya infrastruktur, properti dan manufaktur, opsi pinjaman bank akan makin dilirik, apalagi bila tersedia skema kredit sindikasi atau kredit berbunga rendah untuk proyek strategis.
"Bank himbara akan jadi prime beneficiary dengan tambahan likuiditas besar dan potensi NIM stabil," katanya. Kemudian, sektor konstruksi dan infrastruktur juga dapat mempercepat realisasi proyek strategis.
Sektor konsumer juga berpotensi mendapat akses pembiayaan yang lebih murah untuk operasional dan ekspansi peternakan atau perkebunan.
