Wall Street Menguat Usai Trump Isyaratkan Hubungan Dagang AS–Cina akan Membaik
Indeks utama bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup melonjak pada perdagangan Senin (13/10), setelah bangkit dari penurunan tajam pada akhir pekan lalu. Kenaikan ini terjadi usai Presiden AS Donald Trump menyampaikan optimisme bahwa hubungan perdagangan dengan Cina “akan baik-baik saja.”
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 587,98 poin atau 1,29% ke level 46.067,58. Lalu S&P 500 menguat 1,56% ke 6.654,72, dan Nasdaq Composite melonjak 2,21% ke 22.694,61, ditopang oleh saham-saham teknologi.
Saham Broadcom naik hampir 10% setelah mengumumkan kemitraan resmi dengan OpenAI pada Senin pagi. Sementara itu, Oracle menguat lebih dari 5% dan Nvidia naik hampir 3%.
Kenaikan ini terjadi setelah unggahan Trump di platform Truth Social pada Minggu (12/10) yang menenangkan kekhawatiran investor. Ia menyiratkan bahwa ia mungkin tidak akan menindaklanjuti ancaman “kenaikan tarif besar-besaran” terhadap Cina.
Unggahan tersebut meredakan kekhawatiran pasar setelah perang dagang AS–Cina kembali mencuat pada Jumat dan sempat menghapus sekitar US$ 2 triliun nilai pasar saham global.
Dalam unggahannya, Trump menyebut bahwa dirinya dan Presiden Cina Xi Jinping tidak ingin ekonomi kedua negara melemah. Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat ingin membantu Cina, bukan justru merugikan Negara Tirai Bambu itu.
Wakil Presiden AS, JD Vance mengulang pernyataan serupa pada akhir pekan. Dalam wawancaranya dengan Fox News, ia menyebut Amerika Serikat akan membuka peluang negosiasi apabila Beijing bersikap rasional. Meskipun hal itu menegaskan bahwa AS masih memiliki lebih banyak keunggulan dalam menghadapi situasi itu.
Sementara itu, Kepala Kebijakan AS di Wolfe Research, Tobin Marcus, menilai ketegangan dan ketidakpastian antara kedua negara masih tetap tinggi. Menurutnya, kemungkinan tercapainya kesepakatan komprehensif dalam waktu dekat masih kecil. Namun, pernyataan terbaru dari Trump dan Vance sedikit meredakan kekhawatiran pasar terkait risiko penerapan tarif 100% maupun pembatasan ekspor yang dapat mengganggu proses negosiasi.
Marcus juga menyebut sikap Trump juga dianggap sebagai sinyal positif bagi investor, bahwa kondisi pasar cukup aman untuk kembali melakukan aksi beli setelah penurunan tajam sebelumnya.
“Melihat kebiasaan pasar tahun ini yang tetap berani mengambil peluang meski berisiko, saya rasa investor akan menyambut sinyal ini dengan antusias,” ujar Marcus dikutip CNBC, Selasa (14/10).
Pasar Mulai Pulih
Sebelumnya, ketiga indeks utama Wall Street berakhir di zona merah pada pekan lalu. S&P 500 paling anjlok sejak April, saat pasar masih terguncang oleh pengumuman tarif pertama dari Donald Trump.
Namun, pernyataan terbaru dari Trump berhasil menarik kembali minat investor ke pasar setelah aksi jual besar-besaran pada Jumat, terutama pada saham-saham teknologi yang sebelumnya tertekan. Sektor ini menjadi yang paling terdampak karena banyak perusahaan teknologi bergantung pada pasokan logam langka dari Cina untuk memproduksi semikonduktor dan kendaraan listrik.
Kemudian hampir 80% komponen S&P 500 diperdagangkan lebih tinggi pada Senin. Saham-saham berkapitalisasi kecil juga ikut menguat, dengan Russell 2000 naik 2,8% setelah sebelumnya turun 3% pada Jumat.
Meski pasar menguat di awal pekan, kekhawatiran masih membayangi. Pemerintah AS masih menghadapi potensi penutupan (shutdown) hingga pekan ini, sementara tenggat pembayaran gaji besar-besaran jatuh pada 15 Oktober.
Selain itu, musim laporan keuangan juga mulai bergulir pekan ini. Sejumlah bank besar seperti Citigroup, Goldman Sachs, Wells Fargo, JPMorgan Chase, Bank of America, dan Morgan Stanley dijadwalkan merilis laporan keuangannya pada Selasa dan Rabu, diikuti oleh beberapa bank regional lainnya.
