Wall Street Lesu Tertekan Pelemahan Saham-saham Teknologi

Nur Hana Putri Nabila
31 Oktober 2025, 06:26
Wall Street
Wall Street
Wall Street
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks bursa Wall Street ditutup turun pada Kamis (30/10) setelah investor melihat laporan keuangan dari sejumlah perusahaan teknologi besar. Kondisi tersebut terjadi setelah berakhirnya pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

S&P 500 turun 0,99% menjadi 6.822,34, Nasdaq Composite melemah 1,57% ke 23.581,14, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,23% atau 109,88 poin ke level 47.522,12.

Dari sektor teknologi, Alphabet naik 2,5% berkat kinerja kuartalan yang solid. Namun, Meta dan Microsoft masing-masing anjlok lebih dari 11% dan 3% karena kekhawatiran investor terhadap lonjakan proyeksi belanja kedua perusahaan. Penurunan saham Meta, Microsoft, dan raksasa chip AI Nvidia menunjukan pergeseran minat investor dari saham-saham teknologi pada sesi perdagangan tersebut.

Sebaliknya, saham bank besar seperti JPMorgan dan Bank of America melonjak sejalan dengan naiknya sektor kesehatan. Hal itu usai emiten Eli Lilly membukukan hasil kuartalan di atas ekspektasi dan menaikkan proyeksinya, bahkan sahamnya naik hampir 4%.

Manajer Portofolio di Argent Capital Management Jed Ellerbroek mengatakan setelah saham teknologi memimpin pasar dalam beberapa waktu terakhir, pergeseran investor merupakan hal yang wajar dan sehat. Meskipun ia mengaku semua indikator masih menunjukkan bahwa belanja infrastruktur AI tetap kuat.

“Ini adalah hari bagi saham-saham fundamental,” ujar Ellerbroek, dikutip CNBC pada Jumat (31/10). 

Saham-saham turut menjadi fokus pasar setelah Donald Trump menyetujui pemotongan tarif fentanyl terhadap China menjadi 10%, sehingga total tarif impor Cina turun dari 57% menjadi 47%. 

Sebagai bagian dari kesepakatan, Beijing berkomitmen untuk menekan masuknya fentanyl ke AS dan meningkatkan pembelian kedelai dan produk pertanian Amerika. Cina juga menunda pembatasan ekspor logam langka selama satu tahun. 

“Masalah logam langka telah diselesaikan,” ujar Trump.

Namun, sejumlah isu lain seperti ekspor chip Nvidia dan rencana divestasi TikTok masih belum menemukan kejelasan. Kementerian Perdagangan Cina menyatakan siap untuk bekerja sama dengan AS dalam menyelesaikan persoalan TikTok, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Di samping itu, menurut Ellerbroek kesepakatan ini belum sepenuhnya selesai. Apalagi volatilitas perdagangan yang berkaitan dengan kebijakan Trump kemungkinan akan tetap menjadi ciri khas pasar modal selama ia menjabat sebagai presiden. 

“Itu asumsi saya, dan hasil kemarin memperkuat pandangan tersebut,” ujarnya.

Selain Nvidia, saham chip lain seperti Broadcom dan AMD juga tertekan pada perdagangan Kamis (30/10). Ellerbroek menilai sektor semikonduktor kini menjadi “bola yang diperebutkan” antara AS dan Cina dan sudah menjadi bagian dari investasi di sektor semikonduktor. 

“Jika Anda menginginkan pertumbuhan dan eksposur terhadap siklus belanja modal pusat data, maka harus siap menghadapi volatilitas politik dan hal itu tidak akan hilang,” ujarnya kepada CNBC.

Secara keseluruhan, Wall Street bergerak variatif. Ketiga indeks utama Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq sempat mencetak rekor tertinggi intraday pada awal sesi Rabu, dengan Nasdaq juga mencatatkan rekor penutupan baru. 

Namun, Dow dan S&P 500 akhirnya berbalik melemah. Hal itu usai Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan bahwa bank sentral kemungkinan tidak akan kembali memangkas suku bunga pada pertemuan Desember, berlawanan dengan ekspektasi investor sebelumnya.




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...