MSCI hingga Margin Call Jadi Biang Kerok Guncang Pasar Modal RI

Nur Hana Putri Nabila
29 Januari 2026, 06:00
Pasar Modal MSCI
Katadata/Fauza Syahputra
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia, Irvan Susandy, menyampaikan paparan saat konferensi pers di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/8/2025). Forum tersebut digelar dalam rangka memperingati 48 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia yang mengusung tema "Mewujudkan Ekonomi Mandiri, Berdaulat dan Maju Bersama".
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa Efek Indonesia (BE) menyebut anjloknya pasar modal RI juga adanya aktivitas margin call investor yang menambah tekanan jual pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Rabu (28/1).

Seiring dengan itu, IHSG ditutup rontok 7,35% ke 8.320 pada perdagangan saham kemarin. Merosotnya IHSG juga imbas pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menangguhkan rebalancing indeks saham Indonesia.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy menyampaikan, otoritas pasar modal terus memantau aktivitas anggota bursa (AB) yang memberikan fasilitas margin, termasuk pergerakan pembelian saham dengan skema margin. Apalagi dalam kondisi saat ini, ia menilai potensi penurunan harga saham kian anjlok akibat aksi forced sell.

“Kalau menurut saya sih ya memang suka tidak suka ini pasti ada pengaruhnya dari transaksi margin karena forced sell dan lain-lain,” kata Irvan kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1). 

Tak hanya itu, Irvan menyampaikan berdasarkan data BEI, investor lokal di segmen C1 masih mencatatkan posisi net buy. Artinya, penurunan pasar yang terjadi belakangan ini cukup diserap oleh investor ritel.

Di sisi lain, Irvan menyebut investor asing tercatat net outflow sekitar Rp 3 triliun. Namun menurut dia, angka tersebut relatif kecil dibandingkan total nilai transaksi IHSG yang mencapai sekitar Rp 30 triliun.

Lebih jauh Irvan menilai tekanan akibat margin call memang berpotensi terjadi di tengah anjloknya pasar. Meski begitu, ia melihat daya serap investor ritel masih cukup kuat. 

Otoritas BEI pun terus memantau hingga akhir perdagangan, khususnya terhadap anggota bursa yang memberikan fasilitas margin. Sejauh ini, ia menilai belum ada indikasi masalah yang signifikan dari sisi transaksi margin.

“Tapi memang suka tidak suka kemungkinan besar ada forced sell iya, karena kan ya beberapa saham yang masuk saham margin kan ada yang juga udah 7%, ada yang 10%, ada yang 15%, suka tidak suka pasti ada kemungkinan besar juga ada forced sell,” ucapnya.

Terkait kemungkinan penyesuaian margin, Irvan menilai Bursa tidak ingin bersikap terlalu reaktif menyikapi gejolak pasar. Menurutnya, tekanan yang terjadi saat ini juga dipicu oleh kepanikan investor.

Hingga rebalancing MSCI Mei 2026 mendatang, Bursa terus berupaya melakukan langkah-langkah terbaik untuk menjaga stabilitas pasar.

BEI juga terus berkomunikasi dan koordinasi dengan MSCI melalui berbagai pertemuan. 

“Tapi bukan berarti bahwa kita akan berhenti disitu kita akan terus berupaya yang terbaik memberikan informasi yang lebih banyak ke publik ya, tidak hanya MSCI, tapi teman-teman investor juga,” ujar Irvan.

IHSG Babak Belur hingga Trading Halt

BEI sebelumnya memberlakukan penghentian sementara perdagangan saham atau trading halt. Keputusan itu diambil setelah IHSG anjlok 8% ke level 8.261 pada pukul 13.43 WIB kemarin.

Merujuk data BEI, pada jam tersebut, volume yang diperdagangkan tercatat 45,39 miliar dengan nilai transaksi Rp 31,92 triliun. Sementara itu kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp 14.985 triliun. Hanya 28 perusahaan yang naik, 768 anjlok, dan 8 perusahaan tak bergerak. 

Trading halt adalah pembekuan sementara perdagangan bursa dengan kondisi seluruh pesanan yang belum teralokasi (open order) akan tetap berada dalam sistem perdagangan efek otomatis JATS (Jakarta Automated Trading System) dan dapat ditarik oleh Anggota Bursa.

MSCI mengumumkan bakal membekukan saham Indonesia, baik dalam rebalancing maupun penambahan bobot dalam indeksnya. Sebagai dampaknya, tidak akan ada peningkatan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS) saham-saham RI di MSCI. 

Selain itu, tidak akan ada penambahan saham Indonesia ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta penghentian migrasi naik antarsegmen indeks ukuran, termasuk perpindahan dari Small Cap ke Standard Index. 

MSCI menyatakan ketentuan tersebut segera berlaku. Tak hanya itu, saham RI bahkan tidak dapat masuk dalam kocok ulang atau rebalancing MSCI pada periode Februari 2026. 

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...