Respons MSCI, OJK Naikkan Batas Free Float jadi 15% Berlaku Mulai Februari

Nur Hana Putri Nabila
29 Januari 2026, 14:26
Konferensi pers bersama OJK dan BEI, Kamis (29/1)
Katadata / nur hana nabila
Konferensi pers bersama OJK dan BEI, Kamis (29/1)
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bakal menaikan batas free float menjadi 15% berlaku mulai Februari. Keputusan diambil seiring dengan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menangguhkan rebalancing indeks saham Indonesia.

Penangguhan dari MSCI berdampak ke bursa saham Indonesia yang ditandai dengan ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari beruntun. Bursa Efek Indonesia (BEI) pun sempat memberhentikan sementara perdagangan saham atau trading halt dua hari beruntun lantaran IHSG anjlok hingga menyentuh 8%. 

Free float merupakan porsi saham yang dimiliki oleh publik atau masyarakat, tidak termasuk saham yang dikuasai oleh pemegang saham pengendali, pemegang saham mayoritas, komisaris, direksi, maupun karyawan perusahaan. Saham ini sepenuhnya berada di tangan investor publik dengan kepemilikan kurang dari 5% per individu.

OJK sebelumnya membeberkan aturan baru terkait peredaran saham emiten di Bursa Efek Indonesia. Dalam aturan itu, OJK menaikkan ketentuan free float di pasar modal minimal 10%.  

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan hal tersebut seiring dengan upaya peningkatan transparansi. Bagi emiten atau perusahaan publik yang dalam jangka waktu tertentu sebagaimana diatur tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut, OJK akan menerapkan exit policy melalui proses pengawasan yang baik.

"SRO akan menerbitkan aturan free float minimal 15% yang akan dilakukan dalam waktu dekat," ucap Mahendra dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (29/1).

Mahendra melihat MSCI masih ingin memasuki saham-saham dari emiten Indonesia dalam indeks bergengsi itu.

“Kami melihat bahwa lembaga itu tetap ingin memasukkan saham-saham emiten dari Indonesia dalam indeks global yang menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia sangat potensial dan investable bagi investor internasional,” kata Mahendra. 

MSCI hingga Margin Call Jadi Biang Kerok Guncang Pasar Modal RI

Sebelumnya BEI menyebut anjloknya pasar modal RI juga adanya aktivitas margin call investor yang menambah tekanan jual pada IHSG. Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy menyampaikan, otoritas pasar modal terus memantau aktivitas anggota bursa (AB) yang memberikan fasilitas margin, termasuk pergerakan pembelian saham dengan skema margin. Apalagi dalam kondisi saat ini, ia menilai potensi penurunan harga saham kian anjlok akibat aksi forced sell. 

“Kalau menurut saya sih ya memang suka tidak suka ini pasti ada pengaruhnya dari transaksi margin karena forced sell dan lain-lain,” kata Irvan kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1).  

Tak hanya itu, Irvan menyampaikan berdasarkan data BEI, investor lokal di segmen C1 masih mencatatkan posisi net buy. Artinya, penurunan pasar yang terjadi belakangan ini cukup diserap oleh investor ritel.

Di sisi lain, Irvan menyebut investor asing tercatat net outflow sekitar Rp 3 triliun. Namun menurut dia, angka tersebut relatif kecil dibandingkan total nilai transaksi IHSG yang mencapai sekitar Rp 30 triliun. Lebih jauh Irvan menilai tekanan akibat margin call memang berpotensi terjadi di tengah anjloknya pasar. Meski begitu, ia melihat daya serap investor ritel masih cukup kuat. 

Otoritas BEI pun terus memantau hingga akhir perdagangan, khususnya terhadap anggota bursa yang memberikan fasilitas margin. Sejauh ini, ia menilai belum ada indikasi masalah yang signifikan dari sisi transaksi margin. 

“Tapi memang suka tidak suka kemungkinan besar ada forced sell iya, karena kan ya beberapa saham yang masuk saham margin kan ada yang juga udah 7%, ada yang 10%, ada yang 15%, suka tidak suka pasti ada kemungkinan besar juga ada forced sell,” ucapnya. 

Terkait kemungkinan penyesuaian margin, Irvan menilai Bursa tidak ingin bersikap terlalu reaktif menyikapi gejolak pasar. Menurutnya, tekanan yang terjadi saat ini juga dipicu oleh kepanikan investor. Hingga rebalancing MSCI Mei 2026 mendatang, Bursa terus berupaya melakukan langkah-langkah terbaik untuk menjaga stabilitas pasar. BEI juga terus berkomunikasi dan koordinasi dengan MSCI melalui berbagai pertemuan.  

“Tapi bukan berarti bahwa kita akan berhenti disitu kita akan terus berupaya yang terbaik memberikan informasi yang lebih banyak ke publik ya, tidak hanya MSCI, tapi teman-teman investor juga,” ujar Irvan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...