IHSG Masih Rawan Turun, Ini Saham Rekomendasi Analis yang Dapat Diserok Investor

Nur Hana Putri Nabila
2 Februari 2026, 06:43
IHSG, saham, rekomendasi saham
Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi. Pasar saham diwarnai gejolak pada pekan lalu dengan perdagangan sempat disetop sementara atau trading halt hingga dua kali selama dua hari berturut-turut.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG masih rawan terkoreksi pada perdagangan awal pekan ini, Senin (2/2). Pasar saham diwarnai gejolak pada pekan lalu dengan perdagangan sempat disetop sementara atau trading halt hingga dua kali selama dua hari berturut-turut. 

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan pergerakan IHSG masih didominasi volume beli pada akhir pekan lalu.  IHSG ditutup menguat 1,18% ke 8.329 pada Jumat (30/1) usai sempat trading halt dua hari beruntun pada 28–29 Januari 2026.

Secara teknikal, menurut dia, posisi IHSG saat ini sedang berada di akhir wave (a) dari wave [x]  sehingga indeks rawan terkoreksi pada area 7.945–8.189.

“Adapun area penguatan yang dapat kami perkirakan berada di 8.527–8.812,” kata Herditya dalam risetnya, Senin (2/2). 

MNC Sekuritas menetapkan support IHSG berada di 7.985 dan 7.762. Sementara resistance terdekat berada di 8.341 dan 8.590. Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.  

Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.

MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness saham PT Astra International Tbk (ASII) akumulasi beli di rentang Rp 6.200–Rp 6.325 dengan target harga di Rp 6.600–Rp 6.800, sementara level stoploss di bawah Rp 5.975. 

Kemudian PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) buy on weakness di Rp 610–645 dengan target ke Rp 710–750, dan stoploss jika ke Rp 585. Lalu PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) direkomendasikan speculative buy pada area Rp 665–Rp 700 dengan target harga di Rp 755–Rp 780, serta stoploss di bawah Rp 645. 

Phintraco Sekuritas juga menilai volatilitas indeks mulai mereda setelah dua hari perdagangan sebelumnyas sempat babak belur. Indeks jeblok akibat peringatan MSCI soal status pasar saham Indonesia yang berpotensi diturunkan dari emerging market menjadi frontier market. 

Saat ini, investor cenderung bersikap wait and see menantikan perkembangan langkah OJK dan BEI dalam memenuhi persyaratan MSCI sebelum Mei 2026. Mundurnya Direktur Utama BEI serta instruksi Presiden Prabowo sejauh ini juga tidak direspons pasar dengan fluktuasi tinggi yang menandakan tekanan jual mulai terbatas.

Presiden Prabowo sebelumnya menginstruksikan kenaikan batas investasi dana pensiun dan asuransi di pasar saham menjadi 20% dari sebelumnya 8% pada 30 Januari. Pemerintah juga berencana mempercepat proses demutualisasi BEI dan menaikkan ketentuan minimum free float dari 7,5% menjadi 15%.

Selain itu, Danantara membuka opsi untuk menjadi pemegang saham BEI setelah proses demutualisasi rampung. Serangkaian langkah reformasi dan insentif tersebut diharapkan dapat memperkuat struktur pasar modal Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang.

Namun setelah pasar saham tutup, tiga anggota dewan komisioner OJK, termasuk ketua dan wakil ketua mengundurkan diri dari posisinya. Saat ini, jabatan Plt Ketua dan Wakil Ketua OJK diduduki oleh  Friderica Widyasari Dewi yang menjabat anggota dewan komisioner OJK yang sebelumnya membawahi bidang edukasi dan perlindungan konsumen. 

“Investor masih akan mencermati perkembangan implementasi kebijakan ke depan,” demikian tertulis dalam analisis Phintraco Sekuritas, dikutip Senin (2/2).  

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada akhir pekan lalu juga menyebut, Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik sudah ditunjuk menjadi Pejabat Sementara Dirut BEI menggantikan Iman Rachman.

Pada pekan ini, Phintraco Sekuritas menyebut sejumlah indikator ekonomi domestik seperti indeks PMI Manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi pada 2 Februari akan dirilis. Diikuti rilis pertumbuhan ekonomi pada 5 Februari hingga data cadangan devisa dan indeks harga properti pada 6 Februari.

Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih bergerak konsolidatif dengan rentang perdagangan di kisaran 8.150–8.600 pada pekan depan.

“Jika IHSG mampu bertahan di atas 8.600, berpotensi melanjutkan rebound,” demikian tertulis dalam analisis Phintraco Sekuritas.

Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), serta PT Gudang Garam Tbk (GGRM).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...