BEI Sebut Danantara Jadi Stakeholder Utama, Aktif Diskusi Pengembangan Bursa
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) belakangan semakin aktif terlibat dalam berbagai rapat dan dialog dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta self regulatory organization (SRO) bursa. Mereka ikut membahas arah kebijakan pasar modal ke depan.
Keterlibatan semakin sering setelah dorongan pemerintah untuk mempercepat perampungan peraturan terkait demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Danantara pun secara terang-terangan menyatakan minatnya untuk menjadi pemegang saham BEI setelah regulasi demutualisasi rampung.
Campur tangan Danantara kian kentara tatkala SWF itu juga ikut serta dalam rapat lanjutan OJK dan SRO dengan pengelola indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Senin (2/2) lalu.
Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan, Danantara menjadi salah satu pemangku kepentingan (stakeholder) utama di pasar modal nasional. Badan itu memiliki potensi besar, baik dari sisi permintaan (demand) maupun penawaran (supply).
Sejalan dengan itu, Jeffrey menyatakan BEI akan terus menjalin komunikasi dengan Danantara untuk bersama-sama mendorong pendalaman pasar modal Indonesia, baik dari sisi supply maupun demand.
“Untuk kemarin itu tentu kami bersama Danantara menyampaikan bagaimana perspektif dari sisi investor domestik kita untuk menjawab concern dari MSCI. Itu yang kami lakukan untuk memperkuat dan untuk melengkapi,” ujar Jeffrey kepada wartawan di Main Hall BEI, Jakarta, Rabu (4/2).
Terkait rencana Danantara menjadi pemegang saham BEI setelah demutualisasi, Jeffrey menyebut pihaknya belum mengetahui detail proses tersebut. Saat ini, BEI masih menunggu terbitnya peraturan pemerintah yang mengatur demutualisasi bursa.
“Karena kami juga berdiskusi terus dengan Kementerian Keuangan. Kita sama-sama menunggu bagaimana nanti RPP atau peraturan pemerintah yang akan diterbitkan,” kata dia.
Jeffrey menambahkan, hingga kini BEI masih menantikan ketentuan terperinci dalam regulasi tersebut. Kendati demikian, seluruh proses diskusi berjalan secara konstruktif. BEI juga telah membentuk tim internal yang bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk konsultan hukum pasar modal, untuk merumuskan skema demutualisasi yang sejalan dengan praktik terbaik internasional.
Rapat dengan MSCI
Danantara Indonesia pada Senin (2/2) lalu nimbrung rapat antara OJK beserta jajaran SRO dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Hal itu tak pelak menimbulkan pertanyaan publik.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, ikut hadir di rapat itu. Saat ditanya soal posisi Danantara dalam rapat dengan MSCI, dia mengatakan pihaknya hanya sebagai pembeli saham.
Dia tidak menjelaskan lebih lanjut perannya dalam rapat penting itu. “Kami hanya pembeli saham,” ujar Pandu di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (2/2).
Putra ekonom Sjahrir itu mengatakan, Danantara ikut jadi pembeli domestik karena merasa saham-saham di Indonesia menarik dan ekonominya juga baik. Pandu pun menilai saham di bursa RI valuasinya menarik. Ia juga menyinggung sejumlah analis yang menyinggung langkah regulator yang segera menindaklanjuti pengumuman MSCI.
“Karena barusan Hari Rabu (28/1) kemarin keluar, lihat perubahan yang terjadi hanya dalam waktu 5 hari, termasuk Hari Sabtu (31/1) dan Minggu (1/2) hari kerja buat semua di sini,” kata Pandu.
Ia juga mengatakan, pasar modal menjadi salah satu sektor yang paling cepat melakukan perubahan. Menurutnya, respons BEI hingga SRO sangat cepat bahkan kurang dari satu pekan untuk menyiapkan langkah-langkah yang akan ditempuh.
