Koreksi Saham Gerus Kekayaan Para Konglomerat RI, Harta Prajogo Lenyap Rp 145 T
Harta kekayaan para konglomerat Indonesia menyusut sepanjang Januari hingga Februari 2026. Penurunan ini sejalan dengan merosotnya harga saham emiten-emiten mereka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Koreksi tajam saham-saham konglomerasi tersebut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ke kisaran level 7.900 pada akhir Januari 2026. Pasalnya, saham-saham yang terafiliasi oleh konglomerat menjadi motor penggerak penguatan IHSG dalam beberapa tahun terakhir.
Pelemahan pasar terjadi setelah pengumuman mendadak dari MSCI Inc pada Rabu (28/1) yang menyatakan akan menangguhkan saham-saham Indonesia dalam rebalancing periode Februari 2026. Keputusan itu merupakan hasil konsultasi terkait perubahan metodologi perhitungan free float yang sebelumnya dibahas bersama BEI.
Dalam keterangannya, MSCI menyoroti data kepemilikan saham yang disampaikan otoritas pasar modal Indonesia yang dinilai tidak transparan. Hal tersebut dinilai memunculkan kekhawatiran bagi investor global untuk menanamkan dana investasi di pasar saham RI.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap nilai kekayaan para taipan. Berdasarkan data Forbes Billionaires per Rabu (25/2), Prajogo Pangestu menjadi konglomerat dengan penurunan kekayaan terbesar. Nilai harta pemilik Grup Barito tersebut turun 23,28% dari periode Selasa (6/1) senilai US$ 37,8 miliar menjadi sekitar US$ 29 miliar per hari ini. Dengan asumsi kurs Rp 16.830 per dolar AS, kekayaan Prajogo kini bertengger di Rp 488,07 triliun.
Adapun sumber kekayaan Prajogo berasal dari gurita bisnis Grup barito yang mencakup sektor energi, pertambangan hingga logistik. Di antara saham-saham Prajogo yang tercatat di BEI adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di pasar saham RI.
Merujuk data perdagangan BEI per Selasa (24/2), saham BREN anjlok 14,52% dalam sebulan. Kemudian PT Barito Pacific Tbk (BRPT) rontok 21,62% serta PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) longsor 22,26%.
Penurunan juga dialami sejumlah taipan besar lainnya. Misalnya kekayaan milik raja batu bara nasional, Low Tuck Kwong yang menyusut dari US$ 23,8 miliar menjadi US$ 20,3 miliar atau turun 14,7%. Perusahaan Low yang tercatat di pasar modal di antaranya adalah PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Samindo Resources Tbk (MYOH)
Harta pemilik bank swasta raksasa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yaitu R. Budi Hartono dan Michael Hartono masing-masing turun menjadi US$ 19,7 miliar dan US$ 18,9 miliar.
Penurunan tajam lainnya dialami oleh Agoes Projosasmito. Bos emiten tambang emas PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) itu anjlok 9,97% dari US$ 6,4 miliar menjadi US$ 5,8 miliar. Koreksi tersebut membuat nama Agoes meninggalkan daftar 10 orang terkaya di Indonesia versi Forbes hari ini. Kini, Agoes menjadi orang terkaya nomor 11, disalip oleh bos Harita Group (NCKL) Lim Hariyanto Wijaya Sarwono.
Berikut perbandingan nilai kekayaan konglomerat Indonesia pada Januari dan Februari 2026:
| Nama Konglomerat | Nilai Kekayaan per 6 Januari 2026 | Nilai Kekayaan per 25 Februari 2026 | Naik/turun (%) |
| Prajogo Pangestu | US$ 37,8 miliar atau Rp 633,07 triliun | US$ 29 miliar atau Rp 488,07 triliun | -23,28% |
| Low Tuck Kwong | US$ 23,8 miliar atau Rp 398,60 triliun | US$ 20,3 miliar atau Rp 341,64 triliun | -14,70% |
| Agoes Projosasmito | US$ 6,4 miliar atau Rp 107,18 triliun | US$ 5,8 miliar atau Rp 97,61 triliun | -9,37% |
| Michael Hartono | US$ 20,7 miliar atau Rp 346,68 triliun | US$ 18,9 miliar atau Rp 318,08 triliun | -8,69% |
| R. Budi Hartono | US$ 21,5 miliar atau Rp 360,08 triliun | US$ 19,7 miliar atau Rp 331,55 triliun | -8,37% |
| Marina Budiman | US$ 7,3 miliar atau Rp 122,26 miliar | US$ 6,7 miliar atau Rp 112,76 triliun | -8,2% |
| Otto Toto Sugiri | US$ 10,1 miliar atau Rp 169,15 triliun | US$ 9,3 miliar atau Rp 156,51 triliun | -7,92% |
| Tahir & Family | US$ 10,8 miliar atau Rp 180,87 triliun | US$ 10,5 miliar atau Rp 176,71 triliun | -2,77% |
(sumber: olahan penulis)
