Saham Emiten Pelayaran BULL, SOCI, HUMI Melaju seiring Iran Tutup Selat Hormuz

Karunia Putri
4 Maret 2026, 05:55
saham pelayaran
Katadata
PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) termasuk salah satu emiten pelayaran yang harga sahamnya mengalami kenaikan pada perdagangan Selasa (3/3), di tengah gejolak konflik antara Iran dan Israel-AS.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sejumlah saham emiten pelayaran dan logistik melonjak pada perdagangan Selasa (3/3). Lonjakan itu terjadi seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Berdasarkan data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin, harga saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) naik 5,96% atau 28 poin ke level Rp 498. Saham PT Soechi Lines Tbk (SOCI) menguat 7,63% ke level Rp 705.

Adapun PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) mencatatkan kenaikan paling tinggi, yakni 19,61% ke level Rp 244. Begitu pula dengan emiten anak usaha HUMI, PT GTS Internasional Tbk (GTSI), harga sahamnya melesat 17,16% ke level Rp 314.

Sementara harga saham PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) sempat naik 4,67%, namun di ujung perdagangan terkoreksi 0,93% ke level Rp 424.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan, gangguan akses di Selat Hormuz membuat pelaku pasar tidak hanya memperhitungkan potensi kenaikan harga minyak. Tetapi juga lonjakan premi asuransi kapal, perubahan rute pelayaran, hingga kenaikan tarif angkut atau freight rate.

“Dalam kondisi seperti ini, perusahaan tanker dan pelayaran justru berpotensi menikmati kenaikan pendapatan jangka pendek karena tarif sewa kapal biasanya ikut terdorong naik akibat tingginya risiko dan terbatasnya armada,” ujar Hendra kepada Katadata, Senin (2/3).

Mengutip Bloomberg, tekanan terhadap lalu lintas maritim di Selat Hormuz disebut menjadi salah satu respons Iran atas serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Meski Pemerintah Iran belum secara resmi menutup jalur tersebut, 

Kapal-kapal dilaporkan mulai membatasi pelayaran melalui selat sempit itu. Sejumlah perusahaan asuransi bahkan dikabarkan berencana menarik perlindungan risiko perang bagi kapal yang memasuki kawasan Teluk Persia.

Situasi memanas setelah beredar siaran radio yang mengatasnamakan Angkatan Laut Iran dan menyatakan pelarangan transit di Selat Hormuz. Teheran juga diklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap tiga kapal tanker minyak di kawasan Teluk itu.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi kapal-kapal pengangkut minyak dan gas dari Timur Tengah menuju Cina, Eropa, Amerika Serikat, dan negara konsumen energi utama lainnya.

Ketidakpastian di jalur ini telah memicu lonjakan harga minyak, gas, bahan bakar, dan sejumlah komoditas lain karena kekhawatiran terganggunya arus perdagangan global. Jika gangguan berlangsung lama, tekanan inflasi global berpotensi meningkat.

Secara geografis, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Di sebelah utara, kawasan perairan ini berbatasan dengan Iran, sedangkan di selatan berbatasan dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman.

Panjang selat ini hampir 161 km dengan lebar tersempit sekitar 33 km. Jalur pelayaran di masing-masing arah hanya sekitar 3 km, sehingga sangat rentan terhadap gangguan.

Selain minyak mentah, selat ini juga krusial bagi perdagangan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG). Sekitar seperlima pasokan LNG dunia, terutama dari Qatar, melewati jalur ini pada tahun lalu. Negara-negara Asia menjadi pembeli utama LNG dari kawasan tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...