Wall Street Merosot Usai Tak Jelasnya Kelanjutan Negosiasi AS–Iran
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) anjlok pada perdagangan Selasa (24/3) karena harga minyak mentah melonjak di tengah pekan keempat konflik AS–Iran.
S&P turun 0,37% dan ditutup di level 6.556,37 dan Dow Jones Industrial Average terperosok 84,41 poin atau 0,18%, dan ditutup di level 46.124,06. Tak hanya itu, Nasdaq Composite merosot 0,84% dan ditutup di level 21.761,89.
Anjloknya bursa di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut tengah bernegosiasi dengan Iran. Sentimen sempat positif sehari sebelumnya setelah klaim pembicaraan produktif, namun langsung anjlok karena laporan media Iran yang membantah adanya negosiasi langsung. Kondisi ini memicu kebingungan investor di pasar.
“Percakapan yang sangat baik dan produktif mengenai penyelesaian lengkap dan total atas permusuhan kita di Timur Tengah,” tulis Trump media sosial Truth Social pada Senin (23/3).
Naiknya harga minyak juga menjadi faktor penekan saham. Brent crude oil melonjak lebih dari 4% ke US$ 104,49 per barel, sementara West Texas Intermediate naik hampir 5% ke US$ 92,35 per barel. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi dan berpotensi menahan pelonggaran kebijakan moneter.
Di sisi lain, sektor energi memimpin penguatan di S&P 500. Sektor ini naik sekitar 2% dalam sehari dan mencatat kenaikan lebih dari 9% secara bulanan sehingga menjadi satu-satunya sektor yang masih berada di zona positif.
Menurut , kepala strategi ekuitas di U.S. Bank Asset Management Terry Sandven, pasar saat ini bergerak cenderung sideways dengan volatilitas tinggi akibat ketidakpastian di Iran. Investor diperkirakan akan tetap berhati-hati hingga ada kejelasan lebih lanjut terkait arah konflik dan prospek negosiasi.
“Jika S&P (500) ditutup di bawah 6.500, kemungkinan besar akan ada penurunan lebih lanjut,” kata Sandven dikutip dari CNBC International, Rabu (25/3).
Ia menilai investor mendapat sentimen positif pada Selasa setelah Pakistan menawarkan diri untuk memfasilitasi pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.
Trump pada akhir pekan lalu sempat mengancam akan menyerang fasilitas pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Menanggapi hal tersebut, Iran menyatakan akan menargetkan infrastruktur AS sebagai bentuk balasan.
