BREN hingga DSSA Jeblok Imbas Pengumuman Baru MSCI

Karunia Putri
21 April 2026, 10:42
BREN, DSSA, MSCI
Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga saham sembilan emiten dalam daftar konsentrasi kepemilikan saham tinggi (HSC) anjlok setelah MSCI Inc mengumumkan penghapusan saham-saham tersebut dari indeksnya. Pada perdagangan saham hingga pukul 10.04 WIB, harga saham  PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) merosot 8,33% ke level 6.050, sedangkan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) anjlok 13,46% ke level 2.830. 

Saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) hingga PT Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) yang masuk dalam daftar juga terkoreksi. RLCO turun 3,23% ke level 6.000 dan LUCY terkoreksi 3,59% ke level 1.475.

Selain itu, terdapat saham PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) yang turun 3,94% ke level 6.700, PT Samator Indogas Tbk (AGII) turun 1,24% ke level 3.190, PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) turun 1,91% ke level 2.570. Harga saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH) juga merosot 5,04% ke level 2.640, sedangkan PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) stagnan di level 1.135.

“MSCI menegaskan belum akan memasukkan data baru dari sumber dan keterbukaan tersebut ke dalam perhitungan free float maupun indeks, hingga proses peninjauan selesai dan masukan dari pelaku pasar telah diterima serta dievaluasi,” demikian penjelasan MSCI dalam pengumumannya dikutip Selasa (21/4).

HSC merupakan daftar emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sebagian besar sahamnya terkonsentrasi pada sedikit pihak atau kelompok afiliasi tertentu. Data ini dirilis oleh BEI untuk meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko praktik spekulatif serta memenuhi standar investor global.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, keputusan MSCI mencerminkan bahwa pasar modal Indonesia masih berada dalam fase transisi menuju standar global.

Ia mengatakan, reformasi yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan, BEI, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sudah berada di jalur yang tepat, terutama dalam meningkatkan transparansi dan struktur pasar.

“Kebijakan seperti keterbukaan pemegang saham di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, hingga penerapan kerangka High Shareholding Concentration (HSC) serta rencana kenaikan batas minimum free float menjadi 15% merupakan fondasi penting untuk menciptakan pasar yang lebih sehat, likuid, dan kredibel di mata investor global,” kata Hendra dalam keterangannya.

Meski demikian, MSCI masih bersikap hati-hati. Dalam review indeks Mei 2026, tidak ada peningkatan bobot saham Indonesia, tidak ada penambahan konstituen baru, serta tidak ada kenaikan kelas saham. Bahkan, saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi berpotensi dikeluarkan dari indeks.

Kondisi ini menunjukkan MSCI masih menunggu konsistensi implementasi serta kualitas data yang dapat diandalkan. Dengan kata lain, Indonesia dinilai masih berada dalam fase improving market, belum sepenuhnya menjadi pasar yang tervalidasi secara global.

Dari sisi pasar, dampaknya terlihat pada potensi aliran dana asing yang masih tertahan, terutama dari investor pasif berbasis indeks global. Minimnya perubahan komposisi indeks membuat peluang rebalancing menjadi terbatas, sehingga katalis eksternal bagi penguatan pasar juga relatif kecil. Selain itu, risiko penghapusan saham akibat faktor HSC membuka peluang terjadinya arus keluar dana (outflow) secara selektif. 

Sementara itu, Penjabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, empat proposal yang diajukan oleh Bursa Efek Indonesia telah diakui oleh MSCI. Proposal itu mencakup peningkatan keterbukaan data pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%.

“Kami akan terus berkomunikasi dengan index provider,” ujar Jeffrey dalam pernyataan resmi yang dikutip Selasa (21/4).  

Jeffrey memastikan BEI akan terus berkomunikasi dengan investor global untuk memperoleh masukan untuk penguatan pasar modal ke depan. Menurut Jeffrey, BEI sebelumnya telah bertemu dengan MSCI pada 16 April dan menyampaikan berbagai perkembangan dalam reformasi pasar modal Tanah Air. Namun, ia enggan memerinci apa saja poin yang dibahas dalam pertemuan. 

“Sesuai kesepakatan kedua pihak, seluruh detail pertemuan bersifat rahasia,” ujar Jeffrey.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...