IHSG Diramal Turun Dampak Review MSCI, Saham KLBF hingga MEDC jadi Rekomendasi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramal turun pada perdagangan hari ini karena sentimen negatif dari hasil review MSCI 2026 Market Classification Review.
Bersamaan dengan itu, analis merekomendasikan saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) hingga PT Rukun Raharja Tbk (RAJA).
Analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova menilai IHSG akan bergerak turun hari ini. Hal ini disebabkan indeks bergerak di bawah garis SMA-20 pada chart 4H dan juga level 6.007, yang sebelumnya merupakan support minor.
Menurut Ivan, gerak tersebut menyiratkan adanya risiko indeks melanjutkan pelemahan menuju 5.847 hingga 5.722. Sementara itu, penembusan di atas 6.294 diperlukan agar momentum bisa berbalik menjadi positif.
“Indikator MACD menunjukkan sinyal bullish,” kata Ivan dalam keterangan dikutip Rabu (24/6). Adapun level support IHSG berada di level 5.847, 5.722, 5.519 dan 5.314, sementara level resistance di level 6.121, 6.294, 6.545, 6.835 dan 7.207.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena peningkatan pembelian.
Sedangkan resistance adalah tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar sehingga laju kenaikan harga tertahan.
MACD adalah alat analis teknikal yang digunakan untuk melihat tren dan kekuatan momentum pergerakan saham.
Untuk perdagangan hari ini, Ivan merekomendasikan saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT United Tractors Tbk (UNTR).
Hal senada disampaikan Phintraco Sekuritas. Broker ini menilai, sentimen negatif dari eksternal dan hasil pengumuman MSCI diperkirakan akan memicu IHSG berpeluang menguji level 6.000.
Phintraco menjelaskan, pemerintah sebelumnya mengumumkan pemberian stimulus ekonomi semester kedua 2026 senilai total Rp 26,34 triliun melalui 8 program insentif.
Stimulus ini terdiri dari insentif dalam bentuk pembebasan pajak bagi penulis hingga transportasi senilai Rp 2,04 triliun, program magang nasional yang dilanjutkan senilai Rp 6,26 triliun dan bantuan pangan senilai Rp 18,04 triliun.
Paket stimulus tersebut terdiri dari penetapan tarif khusus PPh final royalti sebesar 1.5% untuk penulis, diskon transportasi periode libur sekolah dan periode libur Nataru, insentif impor LPG dan bahan baku plastik, program magang, pelatihan vokasi, bantuan beras, serta bantuan stabilisasi harga dan pasokan pangan.
Adanya stimulus ini diharapkan dapat membantu meningkatkan daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi dan kenaikan suku bunga.
Sementara itu, hasil MSCI Annual Market Classification Review masih menempatkan Indonesia di pasar berkembang atau Emerging Market pada Rabu (24/6). Namun menurut MSCI, para pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran mendalam terkait kelayakan investasi di Indonesia.
MSCI mengakui reformasi transparansi yang dilakukan OJK, BEI dan KSEI, termasuk keterbukaan pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, pengenalan konsentrasi kepemilikan saham tinggi (HSC), dan menaikkan persyaratan free float minimum menjadi 15%.
MSCI akan terus menilai cakupan, konsistensi, dan efektivitas berkelanjutan langkah-langkah tersebut dalam konteks penentuan free float dan penilaian kelayakan investasi yang lebih luas.
Jika kemajuan yang cukup tidak terlihat pada saat Review Indeks MSCI November 2026, MSCI akan mempertimbangkan berbagai opsi untuk perlakuan yang tepat bagi pasar Indonesia, termasuk konsultasi reklasifikasi Indonesia dari EM menjadi Frontier Market.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA).
