IHSG Rawan Koreksi Hari Ini, Analis Rekomendasi Saham JPFA, RAJA, BRPT
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan saham hari ini setelah menguat 0,92% ke level 5.695 pada Rabu (1/7).
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, dalam skenario terbaik (best case), posisi IHSG masih berada pada fase wave (b) dari wave [iv] dalam skenario hitam. Kondisi tersebut membuat IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi dengan menguji area 5.472–5.540.
Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan level support IHSG berada di kisaran 5.486–5.317, sedangkan area resistance diproyeksikan berada pada rentang 6.007–6.286.
“Namun, cermati skenario merah dimana IHSG saat ini sedang membentuk bagian awal dari wave [v] dari wave 3,” tulis Herditya dalam risetnya, Kamis (1/7).
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Misalnya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) akumulasi beli di rentang Rp 2.290–Rp 2.430 dengan target harga di Rp 2.920–Rp 3.310, sementara level stoploss di bawah Rp 2.240.
Kemudian PT Barito Pacific Tbk (BRPT) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 980–Rp 1.170 dengan target harga di Rp 1.580–Rp 1.950, serta stoploss di bawah Rp 865.
Sentimen IHSG
Phintraco Sekuritas menilai secara teknikal IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi. Hal itu tercermin dari indikator Stochastic RSI yang mulai mendekati area oversold, sementara MACD berpotensi membentuk pola death cross. Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan bergerak terbatas di kisaran 5.600–5.800.
Dari sisi fundamental, sentimen pasar masih dibayangi pelemahan data ekonomi domestik. Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026 dari 50 pada Mei.
Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Juni 2025 sekaligus menandai kontraksi sektor manufaktur untuk kedua kalinya tahun ini. Pelemahan dipicu penurunan pesanan baru dan permintaan ekspor.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia secara tak terduga mencatat defisit sebesar US$ 1,61 miliar pada Mei 2026, pertama kalinya sejak April 2020. Pada periode yang sama, ekspor turun 5,73% secara tahunan (year-on-year/YoY), berbalik dari ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan 6,4% YoY.
“Impor tumbuh 22.16% YoY, lebih tinggi dari estimasi yang sebesar 19.5%, yang terutama didorong oleh kenaikan impor migas,” tulis Phintraco dalam analisisnya, Kamis (2/7).
Laju inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,34% secara tahunan pada Juni 2026, lebih tinggi dibandingkan 3,08% YoY pada Mei 2026 dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,2% YoY.
Capaian tersebut menjadi tingkat inflasi tertinggi sejak Maret 2026, meski masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Peningkatan inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026.
Di sisi lain, inflasi inti juga mengalami percepatan menjadi 2,76% YoY pada Juni 2026 dari 2,59% YoY pada bulan sebelumnya. Angka tersebut merupakan level tertinggi dalam 38 bulan terakhir, yang mencerminkan mulai menguatnya tekanan harga dari sisi permintaan.
Sementara itu, Fitch Ratings menilai cadangan devisa Indonesia masih menghadapi tekanan meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin.
Menurut lembaga pemeringkat tersebut, sentimen investor masih tertahan oleh kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah, disiplin fiskal, serta rencana pengelolaan ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA).
