Setelah Impairment Rp 2,76 Triliun, UNTR Tak Tambah Modal di Bisnis Geotermal
PT United Tractors Tbk (UNTR) membeberkan arah investasi perusahaan setelah mencatatkan impairment atau kerugian penurunan nilai investasi mencapai Rp 2,76 triliun di bisnis geotermal atau panas bumi di Sumatra.
Direktur Keuangan United Tractors, Vilihati Surya, mengakui perseroan mencatatkan kerugian penurunan nilai atau impairment atas investasi di bisnis panas bumi Supreme Energy Rantau Dedap (SERD). Beban tersebut masuk dalam non-recurring charges United Tractors pada semester pertama 2026.
Menurut Vilihati, hal serupa juga terjadi pada mitra United Tractors asal Jepang yang berinvestasi di proyek tersebut. Kedua pemegang saham melakukan full impairment terhadap investasinya di Supreme Energy Rantau Dedap. Saat ini, UNTR memiliki sekitar 40% saham perusahaan patungan tersebut.
Kendati demikian, ia menegaskan UNTR tidak berencana menambah modal maupun shareholder loan untuk Supreme Energy Rantau Dedap. Perseroan memilih fokus mengoptimalkan operasional pembangkit panas bumi tersebut.
“Tanpa melakukan additional more capital atau tidak ada penambahan capital ataupun shoulder loan di investasi tersebut,” ucap Vilihati Surya dalam paparan publik UNTR 2026, Senin (7/9).
United Tractors menargetkan kapasitas operasional Supreme Energy Rantau Dedap dapat dioptimalkan hingga sekitar 90 megawatt (MW). Saat ini, kapasitas yang beroperasi masih sekitar 52 MW atau kurang dari 60%.
Adapun untuk ekspansi panas bumi lainnya, UNTR belum berencana menambah investasi di perusahaan lain. Perseroan masih akan fokus dalam strategi bisnis geothermal pada optimalisasi operasional Supreme Energy Rantau Dedap.
Dalam laporan Katadata sebelumnya, UNTR mencatatkan impairment atau kerugian penurunan nilai investasi mencapai Rp 2,76 triliun di bisnis geothermal di Sumatra. Alhasil, laba anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) itu merosot hingga 88,2% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 956,28 miliar sepanjang semester pertama 2026.
Berdasarkan laporan keuangannya, UNTR membukukan kerugian penurunan nilai investasi di SERD sebesar Rp 1,48 triliun hingga semester I 2026. Pencatatan tersebut membuat nilai investasi perseroan di SERD menjadi nihil. Selain itu, entitas Grup Astra itu juga mencatat kerugian penurunan nilai piutang nonusaha atau pinjaman pemegang saham ke SERD hingga Rp 1,28 triliun.
Manajemen UNTR menilai bukti objektif terhadap anjloknya nilai investasi di SERD setelah menemukan sejumlah masalah operasional yang menjadi indikasi adanya penurunan nilai. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, perseroan kemudian melakukan uji penurunan nilai atau impairment test atas investasinya di SERD.
“Nilai terpulihkan atas investasi pada SERD ditentukan dengan menggunakan hirarki pengukuran nilai wajar Tingkat 3 berdasarkan metode diskonto arus kas (DAK),” tulis manajemen UNTR dalam laporan keuangannya, dikutip pada Senin (3/7).
SERD adalah anak usaha PT Supreme Energy yang mengembangkan proyek panas bumi di Indonesia. Selain UNTR, perusahaan tersebut juga digenggam sejumlah investor strategis, yakni Inpex, Sumitomo Corporation, Marubeni Corporation, dan Tohoku Electric Power Co Inc.
UNTR melalui PT Energia Prima Nusantara (EPN) dan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) mulai berinvestasi di SERD pada 2023. Melalui kedua entitas tersebut, UNTR kini menguasai 40,4% saham SERD.
Apabila menilik kinerja keuangan UNTR hingga semester pertama 2026, kinerja keuangan emiten alat berat Astra itu terbilang lesu pada kuartal pertama 2026.
Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 642,75 miliar, anjlok 80% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,18 triliun. Pendapatan perseroan turun 17% secara tahunan atau YoY menjadi Rp 28,55 triliun dari sebelumnya Rp 34,26 triliun.
Manajemen UNTR menjelaskan, penurunan ini terjadi karena merosotnya kontribusi PT Agincourt Resources akibat tidak adanya penjualan emas. Tak hanya itu, kinerja segmen mesin konstruksi serta kontraktor penambahan yang lesu seiring penurunan alokasi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batu bara nasional pada 2026.
Walaupun begitu, tekanan tersebut dapat ditahan oleh pertumbuhan pendapatan dari segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi, yang ditopang kenaikan harga rata-rata batu bara.
Secara terperinci, pendapatan segmen kontraktor penambangan tercatat Rp 11,9 triliun atau turun 6%. Sementara pendapatan segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi naik 13% menjadi Rp 8 triliun. Adapun pendapatan segmen mesin konstruksi turun 31% menjadi Rp 7,5 triliun, sedangkan segmen pertambangan emas dan mineral lainnya merosot 76% menjadi Rp 692 miliar.
