Wall Street Turun Tertekan Harga Minyak dan Ancaman Inflasi AS
Bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup turun pada perdagangan Selasa (8/9). Hal itu seiring kenaikan harga minyak, ketegangan di Timur Tengah, hingga investor yang menanti rilis data inflasi AS pada akhir pekan ini.
Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 628,18 poin atau 1,18% menjadi 52.786,07. Lalu S&P 500 turun 0,58% menjadi 7.673,52, sementara Indeks Nasdaq turun 0,32% menjadi 26.421,41.
Adapun pasar saham AS tutup pada Senin karena libur Hari Buruh. Meski begitu sentimen pasar dibayangi kenaikan harga minyak setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan.
Kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) naik selama enam hari berturut-turut, menjadi reli terpanjang sejak kenaikan tujuh hari beruntun pada Maret. Sementara harga minyak mentah Brent ditutup menguat hampir 1% menjadi US$ 97,92 per barel dan sempat menembus US$ 99 per barel setelah perdagangan berakhir.
Kenaikan harga energi membuat investor semakin mencermati data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Data Indeks Harga Produsen (PPI) dan Indeks Harga Konsumen (CPI) Agustus dijadwalkan terbit masing-masing pada Kamis dan Jumat. Data itu nantinya akan menjadi salah satu pertimbangan utama menjelang pertemuan Federal Reserve pada 15–16 September.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 59% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan tersebut.
Di samping itu Kepala Strategi Pasar Nationwide Mark Hackett mengatakan kenaikan inflasi yang melampaui ekspektasi akan semakin memperkuat tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga.
“Dan itulah yang sebenarnya menjadi fokus para investor saat ini,” ucap Hackett dikutip CNBC International, Rabu (9/9).
Sektor semikonduktor menjadi salah satu penopang pasar di tengah tekanan kenaikan harga minyak. ETF VanEck Semiconductor (SMH) naik 1,2%. Saham Intel melonjak 9,1%, Advanced Micro Devices (AMD) menguat 5,9%, dan Broadcom naik 3%.
Di sisi lain, lonjakan harga energi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun pada pekan lalu mencapai level tertinggi sejak November 2023, sedangkan yield Treasury tenor dua tahun menyentuh posisi tertinggi sejak Januari 2025.
Pasar juga mencermati kembali memanasnya tensi perdagangan antara AS dan Kanada. Kanada mulai memberlakukan tarif balasan terhadap sekitar US$ 20 miliar barang asal AS pada Selasa.
Menjelang pemberlakuan tarif tersebut, Presiden AS Donald Trump mengatakan produsen pesawat Kanada, Bombardier, tidak dapat menjual produknya di AS kecuali perusahaan mulai memproduksi pesawatnya di Negeri Paman Sam.
