Deret Saham Konglomerat di Daftar HSC, Afiliasi Salim, Sinar Mas hingga Prajogo
Sederet saham yang terafiliasi dengan konglomerat Tanah Air akan didepak oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Konglomerasi tersebut meliputi Grup Sinar Mas, Djarum, Salim, Barito hingga Lippo.
Adapun alasan bursa mengeluarkan saham-saham tersebut dari perhitungan IHSG karena sahamnya terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Total ada 80 saham yang akan dikeluarkan.
Tim Riset Mirae Asset Sekuritas menyatakan, sejumlah saham dalam kelompok HSC memiliki bobot relatif besar terhadap IHSG. Namun, beberapa di antaranya juga mencatatkan penurunan harga yang signifikan sepanjang 2026 hingga 19 Oktober.
Mirae menilai keluarnya saham HSC dari IHSG akan membuat beban indeks lebih longgar dan tidak terbebani fluktuasi harga yang besar. Mesk +i begitu pergerakan hitungan baru IHSG tidak akan otomatis berlaku lantaran BEI akan menyesuaikan pembagi indeks.
"Pengeluaran saham HSC berpotensi positif bagi kinerja IHSG ke depan, mengingat sejumlah saham berbobot besar telah turun tajam sepanjang 2026," tulis Mirae seperti dikutip Selasa (20/10).
Dalam daftar HSC, Grup Sinar Mas milik keluarga Widjaja menyumbang daftar saham HSC terbanyak. Total ada lima saham dari Sinar Mas yang masuk HSC dan dikeluarkan dari perhitungan bursa. Saham-saham tersebut adalah PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA).
Kemudian disusul Grup Mayapada milik pengusaha Dato' Sri Tahir. Saham yang terafiliasi dengan kelompok ini yang masuk HSC antara lain PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA), PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ).
Sementara itu, Grup CT Corp yang dikendalikan Chairul Tanjung memiliki saham PT Bank Mega Tbk (MEGA) dan PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI). Lalu Grup Lippo terafiliasi dengan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO).
Saham milik konglomerat Prajogo Pangestu juga masuk dalam daftar HSC. Saham itu adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Grup Djarum terafiliasi dengan PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) sedangkan Grup Salim memiliki keterkaitan dengan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET).
Serta PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang merupakan perusahaan yang dikendalikan pengusaha Low Tuck Kwong. Adapun PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) terafiliasi dengan Grup Harita.
DCII mencatatkan estimasi bobot 3,82% terhadap IHSG, dengan penurunan harga sebesar 6,6% sejak awal tahun. BYAN memiliki bobot 3,40%, tetapi harganya terkoreksi 33,9%.
Sementara itu saham BREN anjlok lebih dalam yaitu turun 81,1%. DSSA memiliki bobot 1,39% dan terkoreksi 81,9%. Adapun MORA dan SRAJ masing-masing memiliki bobot 1,27% dan 1,02%, dengan penurunan harga 69,8% dan 35,2%.
Secara keseluruhan, keenam saham tersebut diperkirakan menyumbang sekitar 12,33% terhadap bobot IHSG. Dengan bobot yang relatif besar, penurunan harga saham-saham tersebut berpotensi menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan indeks sepanjang tahun ini.
Dengan dikeluarkannya saham HSC berpotensi mengubah komposisi dan bobot saham dalam IHSG. Jika saham-saham tersebut terus turun, indeks berpeluang tidak lagi terdampak secara langsung oleh pergerakan harganya setelah penyesuaian berlaku.
Kendari demikian, perubahan ini tidak serta-merta membuat IHSG naik. BEI akan melakukan penyesuaian terhadap pembagi indeks atau divisor agar perubahan konstituen tidak dengan sendirinya menimbulkan lonjakan atau penurunan indeks. Pergerakan IHSG selanjutnya tetap bergantung pada kinerja harga saham-saham yang masih diperhitungkan.
Di sisi lain, saham-saham yang tetap menjadi konstituen IHSG berpotensi memiliki bobot relatif lebih besar setelah saham HSC dikeluarkan. Namun, peningkatan bobot tersebut tidak otomatis mendorong kenaikan harga saham.
Untuk investor, perubahan ini perlu dicermati dari dua sisi. Pemegang saham yang masuk daftar HSC perlu mewaspadai potensi tekanan jual apabila investor institusi atau pengelola produk investasi berbasis indeks menyesuaikan portofolionya. Sementara itu, investor pada saham yang tetap masuk IHSG perlu memperhatikan kemungkinan perubahan bobot dan aliran dana setelah penyesuaian indeks.
