IHSG Anjlok Hampir 40% Ytd, Taspen Pangkas Portofolio Investasi Saham Jadi 3%
PT Taspen (Persero) mengurangi porsi investasi saham di tengah tekanan yang dihadapi pasar modal RI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot hampir 40% sepanjang 2026.
Perusahaan pengelola dana pensiun aparatur sipil negara (ASN) tersebut kini mengalihkan investasi ke instrumen berpendapatan tetap. Langkah itu diambil demi menjaga imbal hasil sekaligus memenuhi kewajiban pembayaran manfaat kepada peserta.
Equity Capital Market & Mutual Fund Department Head Taspen, Prasasti Gilang Ekapaksi mengatakan, perusahaan menerapkan strategi investasi konservatif untuk menghadapi kondisi pasar saham yang masih tertekan. “Jadi yang kami sampaikan bahwa saat ini kami (Taspen) modenya konservatif dengan kondisi IHSG. Mungkin tahun ini hampir turun 40%,” kata Gilang kepada media, Rabu (28/10).
Sebagaimana diketahui, kinerja IHSG menjadi yang terburuk di antara bursa saham dunia sepanjang 2026. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Senin (19/10/2026), IHSG sempat terkoreksi 42,22% sejak awal tahun atau year to date (ytd). Sementara data per hari ini menunjukkan, posisi indeks terkoreksi 38,91% ytd.
Di tengah tekanan pasar tersebut, Taspen mengurangi porsi saham dalam portofolio investasinya menjadi sekitar 3% secara konsolidasi. Sebelumnya, alokasi investasi saham perusahaan dapat mencapai sekitar 10%, termasuk investasi melalui reksa dana.
“Untuk porsi equity-nya sekarang kita sangat kecil. Secara konsolidasi itu di 3 persenan,” ujar Gilang.
Ia menjelaskan, penurunan porsi saham merupakan bagian dari keputusan perusahaan untuk memindahkan dana ke instrumen yang memberikan pendapatan lebih pasti. Instrumen tersebut mencakup obligasi pemerintah, obligasi korporasi, dan deposito.
“Karena kita kurangi proporsinya, kita pindahkan ke instrumen yang lebih pasti untuk imbal hasilnya,” katanya.
Seleksi Saham Berdasarkan Fundamental dan Likuiditas
Meskipun mengurangi porsi investasi saham, Taspen tetap berinvestasi di pasar modal dengan menerapkan sejumlah kriteria dalam memilih emiten. Prasasti mengatakan, perusahaan mempertimbangkan ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 118 Tahun 2025 dan PMK Nomor 52 Tahun 2021 sebagai dasar penyaringan instrumen investasi yang diperbolehkan.
Untuk investasi saham, Taspen mengutamakan emiten dengan likuiditas tinggi, fundamental bisnis positif, serta kinerja laba yang terus meningkat. Pembagian dividen juga menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan saham yang masuk ke dalam portofolio.
“Yang jelas kalau untuk kriterianya itu kita memang ditentukan ada batasan-batasannya. Kita menggunakan dasarnya PMK 118-2025 sama PMK 52-2021,” ucapnya.
Ia tidak mengungkapkan daftar emiten yang saat ini dimiliki Taspen. Namun, ia menegaskan pemilihan saham dilakukan dengan mempertimbangkan batasan investasi yang berlaku serta kualitas fundamental perusahaan.
80% Investasi Taspen di Pendapatan Tetap
Gilang mengatakan, hingga September 2026, sekitar 80% portofolio investasi Taspen ditempatkan pada instrumen pendapatan tetap atau fixed income. Penempatan tersebut terdiri atas obligasi dan deposito, yang juga berfungsi mendukung kebutuhan likuiditas perusahaan untuk membayar manfaat pensiun kepada peserta.
Sementara itu, sekitar 20% sisanya mencakup investasi pada saham, reksa dana, dan investasi langsung. Investasi langsung Taspen antara lain mencakup kepemilikan di Bank Mandiri Taspen atau Bank Mantap, Taspen Properti Indonesia, serta sejumlah investasi lainnya.
Menurut Gilang, strategi investasi Taspen tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan kewajiban perusahaan dalam memenuhi hak para peserta.
“Semua investasi kita memang, karena kita mengelola untuk ASN, jadi kita fokus bagaimana hasil investasi ini untuk menutupi atau dimanfaatkan untuk manfaat kepada peserta,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengelolaan portofolio Taspen juga mengikuti ketentuan investasi yang ditetapkan pemerintah. Salah satunya, menurut Gilang, kewajiban menjaga minimum alokasi investasi pada obligasi sebesar 30%.
