Saham Prajogo CUAN, PTRO Bangkit, BREN Naik 12,5% usai Didepak dari Bobot IHSG
Emiten konglomerat Prajogo Pangestu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melonjak 12,53% ke Rp 2.020 per saham secara intraday pukul 10.00 WIB, Senin (2/11) pada perdagangan perdana BREN setelah didepak Bursa Efek Indonesia (BEI) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena masuk dalam saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Saham BREN tercatat terkonsentrasi sebesar 97,31% dari total saham warkat dan tanpa warkat per 31 Maret 2026.
Berdasarkan data bursa saham BREN diperdagangkan sebanyak 153,96 ribu lot hari ini dengan valuasi mencapai Rp 29,53 miliar. Di samping itu, BREN menyiapkan dana Rp 1 triliun untuk melakukan pembelian saham kembali atau buyback.
Bukan hanya saham BREN, saham-saham dekapan Prajogo juga menggeliat pada perdagangan hari ini. Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melesat 3,74% ke Rp 1.110 PT Petrindo Jaya kreasi Tbk (CUAN) naik 4,19% ke Rp 398 dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melonjak 7,42% ke level 1.375.
Hari ini, saham-saham yang masuk dalam daftar konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) resmi dikeluarkan dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai hari ini, Senin (2/11). Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan kebijakan tersebut tidak mengubah level awal IHSG pada perdagangan hari ini yang mengacu pada penutupan sebelumnya di posisi 5.057.
Langkah ini dilakukan BEI usai lembaga pengelola indeks global MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan mereklasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pengeluaran saham-saham HSC tidak akan mengubah bobot IHSG pada pembukaan perdagangan hari ini. Sebab, bobot saham-saham yang dikeluarkan akan didistribusikan kembali ke saham-saham lain yang masih menjadi konstituen indeks.
“Bobot dari saham-saham yang dikeluarkan akan didistribusikan ke sisa saham konstituen yang ada,” ujar Jeffrey dalam acara media gathering di Lombok, akhir pekan lalu.
Menurut Jeffrey, mekanisme tersebut serupa dengan penghapusan pencatatan saham atau delisting. Bobot saham yang dikeluarkan akan dialihkan secara otomatis ke saham-saham lain yang masih tercatat dalam indeks.
Dengan kebijakan ini, jumlah saham yang diperhitungkan dalam IHSG berkurang dari sebelumnya 963 saham menjadi 881 saham. Sebanyak 82 saham yang masuk kategori HSC tidak lagi menjadi bagian dari perhitungan indeks.
Sebelumnya, BEI mencatat saham-saham HSC berkontribusi sekitar 18% terhadap bobot IHSG. Sementara itu dari sisi kapitalisasi pasar, kelompok saham itu mencakup sekitar 30% dari total kapitalisasi pasar bursa.
Besarnya kontribusi tersebut tidak terlepas dari keberadaan sejumlah saham HSC dalam jajaran emiten berkapitalisasi pasar terbesar di BEI. Di antaranya PT DCII Indonesia Tbk (DCII) milik konglomerat Otto Toto Sugiri dengan kapitalisasi pasar Rp 417,09 triliun yang menempati posisi ketiga terbesar di bursa.
Selain itu, terdapat PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik Low Tuck Kwong dengan kapitalisasi pasar Rp 305 triliun dan PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) milik Prajogo Pangestu sebesar Rp 240,14 triliun.
