Deretan Bank Jumbo Milik Negara yang Telah Bagikan Dividen, Ada BRI Hingga BNI
Bank jombo berpelat merah atau milik negara telah menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk tahun buku 2024. Dalam mata agenda, terlampir pemberitahuan pembagian dividen kepada para investor perseroan.
Dividen adalah pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham, baik dalam bentuk uang tunai maupun saham. Besar kecilnya dividen tergantung dari laba yang diperoleh perusahaan dan keputusan para pemegang saham dalam RUPST. Berikut adalah empat bank jumbo milik negara yang telah mengumumkan pembagian dividen tahun ini:
1. Bank Tabungan Negara (BTN)
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) memutuskan untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp 751,83 miliar atau setara dengan Rp 53,57 per saham. Jumlah ini merupakan 25% dari laba bersih perusahaan yang mencapai Rp 3 triliun. Keputusan ini diambil dalam RUPS yang digelar pada 26 Maret 2025.
"Berdasarkan proyeksi yang telah dilakukan, pemberian dividend payout ratio sebesar 25% tetap akan dapat menjaga rasio permodalan BTN di tahun 2025 di atas persyaratan regulator," kata pengumuman dalam RUPS, Rabu (26/3).
Sebelumnya BTN membagikan dividen sebesar Rp 700,19 miliar atau 20% dari laba bersih tahun buku 2023 yakni Rp 3,5 triliun. Tahun buku 2024, rasio dividen BTN meningkat sebesar 15% dibandingkan dengan jumlah yang dibayarkan pada Maret 2023 senilai Rp 609 miliar.
2. Bank Mandiri
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menetapkan dividen sebesar Rp 43,5 triliun atau Rp 466,18 per saham dari laba bersih 2024 yang mencapai Rp 55,8 triliun. Dividen tersebut setara dengan 78% dari total laba bersih meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar 60% dari laba.
Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo mengatakan pembagian dividen ini telah disesuaikan dengan arahan dari Kementerian BUMN selaku pemegang saham utama. Dividen payout ratio sebesar 60–78% juga dinilai masih mampu menjaga kesehatan keuangan dan mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan.
"Penentuan dividen payout ratio ini mempertimbangkan berbagai faktor untuk menjaga kondisi permodalan yang sehat, rentabilitas yang optimal, dan mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang yang berkelanjutan," kata Sigit dalam Paparan Kinerja Keuangan tahun 2024, Rabu (5/2).
3. Bank Rakyat Indonesia (BRI)
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga telah menyetor dividen tunai ke rekening para investor pada 23 April 2025. Total dividen final yang dibagikan sebesar Rp 31,40 triliun atau Rp 208,40 per saham. Sebelumnya, pada Januari 2025, BRI juga sudah membagikan dividen interim sebesar Rp 20,4 triliun atau Rp 135 per saham.
Dengan demikian, total dividen tahun buku 2024 mencapai Rp 51,73 triliun atau Rp 343,40 per saham. Laba bersih BRI sepanjang tahun 2024 tercatat sebesar Rp 60,15 triliun, dengan rasio pembagian dividen mencapai 85,32%.
“BRI mempertimbangkan berbagai aspek dalam menentukan besaran dividen, termasuk kebutuhan ekspansi bisnis, kecukupan likuiditas, dan manajemen risiko bank. Rasio kecukupan modal (CAR) Perseroan pun diproyeksikan tetap terjaga di atas 19% dalam jangka panjang,” ujar Corporate Secretary BBRI kala itu, Agustya Hendy Bernadi melalui keterangan resmi, Rabu (23/4).
4. Bank Negara Indonesia (BNI)
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengumumkan pembagian dividen sebesar Rp 13,95 triliun atau Rp 374,05 per saham. Rasio pembagian dividen BNI mencapai 65% dari total laba bersih tahun 2024 yang sebesar Rp 21,46 triliun.
Sebagai perbandingan, pada tahun sebelumnya BNI membagikan dividen dengan rasio 50% dari laba bersih, yakni sebesar Rp 280,49 per saham. Laba bersih BNI meningkat 2,64% dibanding tahun 2023 yang sebesar Rp 20,9 triliun.
"Menyetujui dan menetapkan penggunaan laba bersih konsolidasian perseroan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 21,46 triliun, sebesar 65% digunakan sebagai dividen," tulis pengumuman dalam Rapat Umum Pemegang Saham alias RUPS, Rabu (26/3).
Dividen BUMN Dialihkan ke Danantara
Pemerintah resmi mengalihkan pengelolaan dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mulai tahun 2025. Keputusan ini diambil menyusul pemberlakuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang BUMN yang menetapkan bahwa setoran dividen tidak lagi langsung masuk ke kas negara.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara yang saat ini juga menjabat sebagai Pelaksana Harian (Plh) Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan bahwa peralihan pengelolaan ini telah efektif sejak Maret 2025. Meski demikian, pemerintah mengklaim telah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi berkurangnya penerimaan negara dari pos dividen BUMN dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Pengelolaan dividen BUMN sudah resmi dipindahkan ke Danantara. Namun, kami sudah menyiapkan sejumlah langkah untuk menutup potensi bolongnya kas negara akibat pengalihan ini,” kata Suahasil dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR RI, Kamis (8/5).
Hingga Januari 2025, total dividen BUMN yang tercatat masuk ke kas negara telah mencapai Rp 10,8 triliun. Jumlah tersebut baru sekitar 12,1% dari target dividen BUMN dalam APBN 2025 yang ditetapkan sebesar Rp 90 triliun.
Untuk menambal kekurangan tersebut, Suahasil menyebutkan bahwa Kementerian Keuangan akan mengupayakan sejumlah langkah ekstra. “Kami sampaikan beberapa extra effort, yang dimaksudkan untuk meningkatkan kepatuhan dan memperkuat penerimaan negara,” ujarnya.
