Rupiah Berpotensi Menguat di Tengah Meningkatnya Prospek Pemangkasan Suku Bunga

Rahayu Subekti
25 November 2025, 09:45
rupiah, dolar, rupiah menguat
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sg
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah menguat 0,28% ke level Rp 16.653 pada perdagangan pagi ini, Selasa (25/11). Kurs rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS hari ini seiring meningkatnya prospek pemangkasan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed.

“Meningkatnya prospek pemangkasan suku bunga ini menyusul pejabat The Fed Christopher Waller yang mengatakan bahwa pemangkasan suku bunga Desember diperlukan dengan keadaan perekonomian AS saat ini,” kata Analis Doo Financial Futures Lukman Leong kepada Katadata.co.id, Selasa (25/11).

Lukman memproyeksikan rupiah hari ini berada di level Rp 16.600 per dolar AS hingga Rp 16.750 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka pada level Rp 16.674 per dolar AS. Level ini menguat 25 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Namun, bergerak melemah tipis ke level RP 16.675 hingga pukul 09.30 WIB.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pernyataan Gubernur The Fed Waller menegaskan kembali dukungannya terhadap penurunan suku bunga pada Desember 2025. Selain itu juga mengusulkan kembalinya pendekatan kebijakan berbasis kondisi pertemuan terkini mulai Januari 2026.

“Komentarnya memperkuat sikap dovish The Fed dan memberikan tekanan ke bawah kepada indeks dolar AS,” ujar Josua.

Josua menambahkan, investor saat ini terus menantikan rilis data penting AS pada pekan ini untuk mengukur arah ekonomi AS. Ia memperkirakan rupiah akan diperdagangkan dalam kisaran Rp 16.625 per dolar AS hingga Rp 16.750 per Dolar AS.

Di sisi lain, Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana memproyeksikan rupiah bisa melemah pada perdagangan hari ini. “Kemungkinan ada depresiasi tipis ke level Rp 16.720 per dolar AS,” kata Fikri.

Fikri mengatakan hal ini dipengaruhi peningkatan indeks dolar AS semalam. Hal ini seiring apresiasi dolar AS terhadap euro dan yen karena kondisi fiskal yang kurang baik di Uni Eropa dan intervensi fiskal yang besar di Jepang.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...