Harga Emas Dunia Cetak Rekor Imbas Ancaman Tarif Trump ke Eropa soal Greenland
Harga emas dunia mencetak rekor tertinggi sepanjang masa usai Presiden AS Donald Trump mengatakan akan mengenakan tarif pada delapan negara Eropa yang menentang rencananya untuk mengambil alih Greenland.
Mengutip Bloomberg, harga emas spot naik 1,7% menjadi US$4.676,22 per ons pada pukul 07.35 waktu Singapura atau 06.35 WIB, usai mencapai puncak tertinggi $4.690,59 sebelumnya. Harga perak juga melonjak 3,9% menjadi US$93,6305, dan sempat menyentuh level tertinggi US$94,1213.
Lonjakan harga emas terjadi usai Trump mengumumkan tarif 10% untuk barang-barang dari negara-negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris, yang akan berlaku mulai 1 Februari dan naik menjadi 25% pada Juni. "Tarif tersebut akan meningkat menjadi 25% pada 1 Juni dan akan berlanjut hingga kesepakatan tercapai agar AS membeli Greenland", tulis Trump di akun Truth Social miliknya pada Sabtu waktu setempat (18/1).
Trump telah berulang kali menegaskan tidak akan menerima apa pun selain kepemilikan Greenland, yang saat ini menjadi wilayah otonom Denmark. Para pemimpin Denmark dan Greenland telah menegaskan bahwa pulau itu tidak untuk dijual dan tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Merespons langkah Trump, para pemimpin Eropa akan mengadakan pertemuan darurat dalam beberapa hari ke depan untuk menjajaki kemungkinan tindakan balasan. Negara-negara anggota sedang membahas beberapa opsi untuk menanggapi situasi ini, termasuk mengenakan bea masuk balasan pada barang-barang AS senilai €93 miliar atau US$108 miliar, menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mungkin akan meminta pengaktifan instrumen anti-koersi Uni Eropa, yang akan menjadi alat pembalasan paling ampuh di blok tersebut.
Harga emas melonjak tajam pada tahun ini, ketika AS menangkap pemimpin Venezuela dan kemudian meningkatkan ancaman untuk merebut Greenland. Pemerintahan Trump juga memperbarui serangan terhadap The Federal Reserve, memperintensifkan kekhawatiran atas independensi bank sentral dan memicu perdagangan pelemahan nilai mata uang, di mana investor menghindari mata uang dan obligasi pemerintah karena kekhawatiran atas tingkat utang.
Sepanjang tahun lalu, harga emas dunia telah melonjak 65%, kenaikan yang belum pernah terjadi sebelumnya seperti terlihat dalam grafik di bawah ini.
Alasan Trump Inginkan Greenland
Trump telah berulang kali mengatakan bahwa Greenland sangat penting bagi keamanan AS karena lokasinya yang strategis. Greenland juga memiliki deposit mineral yang besar. Trump pun secara terang-terangan berencana menggunakan kekuatan AS untuk merebutnya.
Menanggapi itu, negara-negara Eropa telah mengirim personel militer ke pulau itu atas permintaan Denmark. "Negara-negara ini, yang memainkan permainan yang sangat berbahaya ini, telah menempatkan tingkat risiko yang tidak dapat diterima atau berkelanjutan," kata Trump.
Para pengunjuk rasa di Denmark dan Greenland berdemonstrasi pada hari Sabtu menentang tuntutan Trump dan menyerukan agar wilayah tersebut dibiarkan menentukan masa depannya sendiri.
Negara-negara yang disebutkan oleh Trump telah mendukung Denmark, memperingatkan bahwa perebutan wilayah di NATO oleh militer AS dapat menyebabkan runtuhnya aliansi militer yang dipimpin Washington.
"Pengumuman presiden datang sebagai kejutan," kata Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen dalam sebuah pernyataan. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara tidak biasa blak-blakan mengutuk ancaman Trump, dengan mengatakan di X bahwa negaranya akan mengangkat masalah ini langsung dengan Washington.
"Menerapkan tarif pada sekutu untuk mengejar keamanan kolektif sekutu NATO sepenuhnya salah," kata Starmer.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa mengatakan dalam unggahan terpisah tetapi identik di X bahwa Uni Eropa berdiri dalam "solidaritas penuh" dengan Denmark dan Greenland.
"Tarif akan merusak hubungan transatlantik dan berisiko menyebabkan spiral penurunan yang berbahaya. Eropa akan tetap bersatu, terkoordinasi, dan berkomitmen untuk menegakkan kedaulatannya," kata mereka.
Kesepakatan Dagang AS-Eropa Terancam
Ancaman hari Sabtu dapat menggagalkan kesepakatan sementara yang dibuat Trump tahun lalu dengan Uni Eropa dan Inggris Raya. Kesepakatan tersebut mencakup bea masuk dasar sebesar 15% untuk impor dari Eropa dan 10% untuk sebagian besar barang Inggris.
"Bahaya terbesar, menurut saya, adalah keputusannya untuk memperlakukan beberapa negara Uni Eropa berbeda dari yang lain," kata William Reinsch, seorang ahli perdagangan di Pusat Studi Strategis dan Internasional.
"Saya tidak terkejut. Ini mungkin akan meyakinkan Parlemen Eropa bahwa tidak ada gunanya menyetujui perjanjian perdagangan dengan AS, karena Trump sudah mengabaikannya," kata dia.
Trump mengemukakan gagasan umum tentang tarif atas Greenland pada Jumat (16/1), tanpa menyebutkan dasar hukum untuk melakukannya. Tarif telah menjadi senjata pilihannya dalam upaya memaksa musuh dan sekutu Amerika untuk memenuhi tuntutannya.
Ia juga mengatakan pada pekan lalu bahwa akan mengenakan tarif 25% pada negara mana pun yang berdagang dengan Iran karena negara itu menekan protes anti-pemerintah. Namun, belum ada dokumentasi resmi dari Gedung Putih tentang kebijakan tersebut di situs webnya, atau informasi tentang otoritas hukum yang akan digunakan Trump.
Mahkamah Agung AS telah mendengar argumen tentang legalitas tarif Trump yang luas, dan setiap keputusan oleh badan peradilan tertinggi AS akan memiliki implikasi besar pada ekonomi global dan kekuasaan presiden AS.
"Kehadiran Cina dan Rusia yang semakin meluas membuat Greenland vital bagi kepentingan keamanan AS", kata Trump.
