Rupiah Melemah, Airlangga Sebut Musim Haji dan Dividen Picu Permintaan Valas

Image title
5 Mei 2026, 17:15
rupiah, valas, dividen
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.
Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menyentuh level di atas Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (5/5).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menyentuh level di atas Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (5/5). Pemerintah menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan musiman dalam negeri, termasuk kebutuhan valas yang meningkat pada musim dividen dan haji.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup kian melemah pada perdagangan sore ini. Menurut data Bloomberg, rupiah ditutup turun 30 poin atau 0,17% ke level Rp 17.424 per dolar AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pelemahan mata uang tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga terjadi di berbagai negara lain karena dolar AS tengah menguat.

“Terkait rupiah, berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap dolar AS,” ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (5/5).

Ia menjelaskan, salah satu faktor musiman yang mendorong tekanan terhadap rupiah adalah meningkatnya permintaan dolar AS selama periode ibadah haji. Kebutuhan valuta asing untuk keberangkatan jemaah turut menambah tekanan di pasar.

“Biasanya pada saat ibadah haji, demand terhadap dolar meningkat,” kata Airlangga.

Selain itu, faktor lain yang turut memengaruhi adalah pembayaran dividen pada kuartal II, yang juga meningkatkan permintaan terhadap dolar AS oleh pelaku usaha dan investor.

Pemerintah dan BI Siapkan Currency Swap hingga Penerbitan Obligasi Valas

Pemerintah terus memantau perkembangan tersebut bersama Bank Indonesia (BI), termasuk membandingkan kondisi dengan negara lain yang mengalami tekanan serupa.

Untuk meredam gejolak nilai tukar, pemerintah dan Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah langkah, termasuk memperkuat kerja sama keuangan internasional melalui skema pertukaran mata uang (currency swap) dengan sejumlah negara, seperti Cina, Jepang, dan Korea Selatan.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar dengan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Selain itu, pemerintah juga tengah mengkaji strategi pembiayaan melalui penerbitan surat utang dalam mata uang alternatif, seperti yuan dan yen, guna mengelola tekanan terhadap dolar AS.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...