Jusuf Kalla: Hadapi Krisis Harus Cepat Ambil Keputusan, Jangan Ditunda

Image title
9 Juni 2026, 17:18
Jusuf Kalla, krisis, rupiah
Youtube Universitas Paramadina
Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, memberikan pandangannya mengenai kondisi perekonomian Indonesia dalam Seminar Publik Kebijakan Ekonomi dan Manajemen Krisis yang diselenggarakan Universitas Paramadina, di Jakarta, Selasa (9/6).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, mengatakan kunci bagi pemimpin dalam menghadapi krisis adalah mengambil keputusan secepat mungkin dan tidak menunda penyelesaian masalah. Hal ini merupakan respons JK, panggilan akrab Jusuf Kalla, terhadap perkembangan ekonomi yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. 

Pengalaman panjang Jusuf Kalla sebagai pengusaha maupun pejabat pemerintahan membentuk pola pikir yang selalu mengutamakan kecepatan dalam mengambil keputusan dalam menghadapi berbagai macam krisis.

“Saya pengusaha 35 tahun, di pemerintahan 20 tahun, jadi cara berpikir saya mau bagaimanapun ya sama. Saya selalu bilang, lebih cepat lebih baik, jangan tunda masalah, selesaikan segera. Lebih baik ada keputusan daripada tidak ada keputusan,” ujar JK dalam seminar publik Kebijakan Ekonomi dan Manajemen Krisis yang diselenggarakan Universitas Paramadina secara daring, Selasa (9/6).

Menurutnya, prinsip tersebut selalu ia terapkan baik selama berkecimpung di dunia usaha maupun saat berada di pemerintahan. Ia menilai berbagai krisis yang pernah terjadi di Indonesia selalu berkaitan erat antara persoalan ekonomi dan politik.

“Selama menjadi pengusaha, selama di pemerintahan, banyak krisis. Krisis ekonomi itu selalu ada hubungannya dengan politik,” kata JK.

JK mencontohkan sejumlah krisis ekonomi dalam sejarah Indonesia yang kemudian berdampak pada kondisi politik nasional. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan energi disebut dapat memicu gejolak di masyarakat.

“Harga beras naik, harga bahan bakar minyak (BBM) naik, orang demo, ya itulah,” ucapnya.

Ia juga menyinggung krisis ekonomi tahun 1998 yang berujung pada perubahan besar dalam pemerintahan Presiden ke-2 RI, Soeharto.

“Pak Harto juga begitu tahun 1998, krisis ekonomi terkena. Jadi perekonomian itu tentu banyak hal yang kita harus pelajari untuk mencegah krisis yang terjadi,” ujar JK.

Faktor Pelemahan Rupiah: Supply dan Demand

Jusuf Kalla juga merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini yang berada di level Rp 18.000. Menurutnya, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh mekanisme pasokan dan permintaan (supply dan demand). Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap dolar AS membuat nilai rupiah tertekan.

“Kenapa rupiah menurun dan dolar naik? Ya karena orang banyak simpan dolar, karena tidak percaya pada rupiah. Makin banyak orang simpan dolar berarti nilai rupiah makin turun,” ujarnya.

Ia menambahkan, tingginya permintaan dolar dan berkurangnya pasokan di pasar menyebabkan rupiah mengalami tekanan hingga sempat mendekati Rp18.200 per dolar AS.

“Permintaan dolar banyak, supply-nya kurang. Nah, rupiah juga mengalami kesulitan maka terjadilah itu,” kata JK.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...