Gubernur BI Ungkap Faktor yang Buat Rupiah Tertekan, Upayakan Jaga Stabilitas

Ade Rosman
19 Oktober 2026, 22:02
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat pagi melemah 83 poin atau 0,46 perse
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat pagi melemah 83 poin atau 0,46 persen menjadi Rp18.021 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti mengungkapkan sejumlah faktor yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tertekan dan menembus lebih dari 18.000 per dolar AS. 

Destry menuturkan, kondisi global masih diwarnai volatilitas tinggi, termasuk akibat inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih berada di atas target dan prospek suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer.  Tantangan bagi rupiah lainnya yakni perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral AS, yakni Federal Reserve (The Fed). 

“Sehingga itu menjadi salah satu tantangan buat rupiah kita,” kata Destry dalam konferensi pers usai rapat terbatas ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10).

Destry mengklaim, bank sentral dapat mengantisipasi sejumlah kondisi yang menekan nilai tukar rupiah tersebut. Ia pun mengaku diminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengupayakan stabilitas mata uang garuda.

“Tapi so far, dua hari ini rupiah, bisa kami jaga stabilitasnya, sehingga terjadi memang sedikit perlambatan. Dan itu juga sesuai dengan beberapa negara di (emerging markets),” katanya.

Lebih jauh ia menuturkan, langkah BI untuk menjaga stabilitas rupiah yaitu dengan memanfaatkan berbagai instrumen kebijakan, mulai dari intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan non-deliverable forward (NDF), hingga insentif biaya lindung nilai atau hedging.

Destry menyebut, insentif hedging yang dikucurkan sejak akhir Juni 2026 telah mendatangkan aliran dana melalui instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF) senilai sekitar US$ 8 miliar hingga US$ 9 miliar.

“Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar,” kata Destry. 

Merujuk data spot Bloomberg, rupiah ditutup di angka 18.046 per dolar AS pada Senin (19/10) sore. Angka tersebut melemah sekitar 20 poin atau 0.11% dari pembukaan Senin (19/10) pagi yang mana rupiah berada di level  18.026 per dolar AS. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...