Danantara: Satu Proyek Pembangkit Sampah (PSEL) Butuh Investasi hingga Rp 3,2 T

Nur Hana Putri Nabila
3 November 2025, 16:38
Proyek Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), waste to energy, danantara
Vecteezy.com/Oleh Bilovus
Ilustrasi.Proyek Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) akan menyerap 2.000 hingga 3.000 tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung selama masa konstruksi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia menyebut setiap proyek pengolah sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE) membutuhkan investasi hingga Rp 3,2 triliun. 

Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir menjelaskan bahwa setiap proyek Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) membutuhkan investasi berkisar antara Rp 2,5 triliun hingga Rp 3,2 triliun. Adapun kapasitas pengolahannya mencapai sekitar 1.000 ton per hari.

Pandu memperkirakan, proyek ini akan menyerap 2.000 hingga 3.000 tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung selama masa konstruksi. Sekitar 400 hingga 500 pekerja akan terlibat langsung di lokasi pembangunan, sisanya berasal dari sektor pendukung seperti penyedia bahan bangunan dan jasa terkait lainnya.

Ia juga menyebut pembiayaan proyek waste-to-energy (WtE) akan menggunakan skema ekuitas menggunakan dana yang diperoleh dari Patriot Bond. Danantara akan membeli saham perusahaan patungan yang mengoperasikan fasilitas WTE untuk mendanai proyek tersebut. 

Danantara saat ini telah menghimpun dana segar lebih dari Rp 50 triliun dari penerbitan surat utang negara kepada konglomerat atau Patriot Bond. Namun, CIO BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir belum memastikan seberapa besar kontribusi Patriot Bond dalam skema pembiayaan ekuitas tersebut. 

"Sejauh ini ada perusahaan pengelola WTE yang berencana mempertahankan kepemilikannya 51% atau lebih. Kami akan mendiskusikan hal ini lebih lanjut, namun target kami adalah agar proyek ini selesai tepat waktu," kata Pandu di kantornya, Senin (3/11). 

Pandu memberikan sinyal bahwa kepemilikan Danantara dalam setiap WTE setidaknya mencapai 30%. Namun, kepemilikan saham tidak akan menjadi fokus utama selama setiap proyek WTE selesai tepat waktu pada kuartal pertama tahun depan. Pandu menghitung mayoritas pendanaan proyek WTE akan berasal dari utang perbankan atau mencapai 70%. 

Pandu menyampaikan, saat ini banyak bank yang tertarik untuk menyediakan pendanaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Ia menilai, tingginya minat perusahaan untuk berkontribusi dalam program WTE lantan tingkat pengembalian investasi secara komersial yang cukup tinggi.  Namun,  ia tidak menjelaskan lebih lanjut berapa persentase pengembalian investasi yang dimaksud.

"Secara formasi modal, proyek WTE termasuk bagus karena banyak bank swasta nasional, bank asing, maupun bank pelat merah yang berminat. Proyek ini akan menjadi contoh pendanaan proyek dengan skema crowding-in," katanya. 

Pandu mencatat ada 24 perusahaan asing yang akan mengikuti lelang WTE pada pekan ini, Kamis (6/11). Menurutnya, seluruh perusahaan tersebut memenuhi syarat dari sisi kepemilikan teknologi dari 200 perusahaan yang berminat. 

Dia menjelaskan, 24 perusahaan asing ini harus membangun usaha patungan bersama mitra lokal, baik itu perusahaan pelat merah, perusahaan swasta nasional, maupun perusahaan daerah. Hal tersebut menjadi syarat untuk mengikuti lelang tujuh proyek WTE yang akan dibuka pekan ini. 

Secara rinci, ketujuh proyek WTE yang akan dilelang pada gelombang pertama adalah Denpasar, Yogyakarta, Semarang, Bogor Raya, Tangerang Raya, Bekasi Raya, dan Medan Raya. Seluruh daerah tersebut dipilih lantaran memiliki lahan setidaknya 5 hektare, memiliki limbah rumah tangga setidaknya 1.000 ton per hari, dan memiliki jalur logistik yang dapat menampung hingga 300 truk per hari. 

Danantara Investment Management (Persero) telah mengumumkan daftar peserta yang lolos seleksi untuk masuk ke dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) pada Pemilihan Mitra Kerja Sama Badan Usaha Pengembang dan Pengelola Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik (BUPP PSEL).

Berikut 24 daftarnya:

  1. Mitsubishi Heavy Industries Environmental & Chemical Engineering
  2. ITOCHU Corporation
  3. China Everbright Environment Group Limited
  4. Kanadevia Corporation
  5. PT MCC Technology Indonesia (MCC)
  6. China National Environmental Protection Group Co., Ltd (CECEP)
  7. GCL Intelligent Energy (Suzhou) Co., Ltd.
  8. Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd
  9. Dynagreen Environmental Protection Group Co., Ltd
  10.  SUS Indonesia Holding Limited
  11. Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd
  12. Hunan Construction Engineering Group Co., Ltd
  13. CEVIA Enviro Inc.
  14. China Conch Venture Holding Limited
  15. China TianYing Inc
  16. PT Jinjiang Environment Indonesia
  17. Wangneng Environment Co., Ltd
  18. Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd
  19. Beijing China Sciences Runyu Environmental Technology Co.,Ltd. (CSET)
  20. Tianjin TEDA Environmental Protection Co., Ltd
  21. Grandblue Environment Co., Ltd
  22. Beijing GeoEnviron Engineering & Technology, Inc
  23. Wuhan Tianyuan Group Co., Ltd
  24. QiaoYin City Management Co., Ltd

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...