Laba Emiten Pengolahan Sampah MHKI Melonjak, Siap Ekspansi Lebih Lanjut
Emiten pengolahan limbah PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) meraup laba tahun berjalan sebesar Rp 39,9 miliar sepanjang 2025. Torehan itu melesat 24,16% secara tahunan atau year-on-year (yoy) dari periode 2024 sebesar Rp 32,1 miliar.
Nilai saham MHKI juga terbang 100% dalam setahun terakhir di tengah isu perusahaan masuk ke dalam proyek waste-to-energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara.
Pada perdagangan Senin (13/4), saham MKHI naik 1,05% ke Rp 192 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 720 miliar. Dalam seminggu terakhir, saham MHKI telah tumbuh 14,9%.
Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025, pendapatan perusahaan juga naik 23,6% yoy menjadi Rp 212,9 miliar dari sebelumnya Rp 172,3 miliar pada 2024. Pendapatan dari jasa sebesar Rp 123,4 miliar dan penjualan barang sebesar Rp 89,5 miliar. Lalu pendapatan dari pelanggan yakni PT PLN sebesar Rp 27,2 miliar.
Direktur Utama MHKI, Alwi, mengatakan, capaian ini mencerminkan hasil dari konsistensi eksekusi perseroan. Dia menjanjikan perusahaan akan terus menjaga pertumbuhan dan keberlanjutan kinerja.
“Perseroan memandang peluang pertumbuhan masih terbuka, didukung oleh permintaan pasar yang tetap solid serta peningkatan kapasitas operasional,” kata Alwi dalam keterangannya, Selasa (14/4).
Alwi mengatakan kinerja perusahaan ditopang oleh permintaan dari pelanggan utama, terutama dari sektor energi dan industri lainnya. Adapun Multi Hanna Kreasindo merupakan pemain strategis di industri pengolahan limbah B3 dan non-B3.
Limbah B3 adalah sisa usaha/kegiatan berbahaya (mudah meledak, terbakar, beracun, infeksius, korosif) yang wajib diolah khusus (fisika/kimia/biologi). Limbah non-B3 merupakan sampah nonberbahaya yang aman bagi lingkungan.
Dari sisi operasional, seiring meningkatnya aktivitas usaha, biaya operasional ikut naik, khususnya pada komponen transportasi dan tenaga kerja. Meski demikian, struktur biaya masih terjaga dengan baik, tercermin dari beban penjualan sebesar Rp 108,7 miliar dan efisiensi berkelanjutan beban administrasi.
Alwi mengatakan perusahaan juga memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui berbagai investasi strategis. Di antaranya pengembangan fasilitas di Lamongan dan penguatan infrastruktur di Semarang.
Perseroan juga tetap menjaga arus kas operasional yang sehat demi memastikan ekspansi berjalan terukur dan prudent. “Aktivitas operasional diarahkan tidak hanya untuk mendukung pertumbuhan bisnis, tetapi juga untuk berkontribusi terhadap pengurangan dampak lingkungan dan peningkatan standar pengelolaan limbah industri di Indonesia,” kata Alwi.
