PGEO Bidik Pasokan Listrik Data Center dan AI lewat Panas Bumi

Nur Hana Putri Nabila
8 September 2026, 09:55
pgeo, panas bumi, ai, data center
ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nz
Foto udara Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (15/9/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE tengah membidik peluang dari pertumbuhan pusat data atau data center hingga akal imitasi (AI) di Indonesia. Mereka menyiapkan panas bumi sebagai sumber listrik energi baru terbarukan (EBT) untuk menopang pertumbuhan pusat data dan ekosistem AI.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan Indonesia tengah memasuki era transformasi digital yang mendorong kenaikan kebutuhan pusat data.

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 235,26 juta orang dengan 185 fasilitas pusat data yang diperkirakan terus bertambah hingga 2029–2030.

Ia menjelaskan pusat data dan AI  memiliki kebutuhan energi yang spesifik, yaitu pasokan listrik yang stabil, tersedia selama 24 jam, sekaligus bersih.

Karakteristik tersebut sulit dipenuhi oleh sumber energi terbarukan yang bersifat intermiten. Menurutnya, pusat data membutuhkan pasokan listrik yang andal sekaligus hijau.

“Panas bumi adalah energi domestik yang bersih dan mampu beroperasi sebagai baseload sepanjang waktu, sehingga sangat cocok menjadi tulang punggung green data center di Indonesia,” ujar Ahmad Yani dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (7/9). 

Ahmad mengatakan PGEO mengkaji pengembangan elektrifikasi green data center berbasis panas bumi di Area Kamojang, Jawa Barat. PGE merancang proyek tersebut sebagai pilot project untuk menguji model bisnis, menjajaki kebutuhan calon pengguna, hingga menyiapkan pasar.

Demi mendorong pengembangan data center berbasis EBT, khususnya panas bumi, Ahmad menilai sejumlah membutuhkan dukungan dari berbagai aspek.

Pertama, pemerintah perlu menyempurnakan regulasi tarif agar lebih kompetitif, transparan, dan dapat diprediksi. Kedua, pemerintah perlu memperluas pemanfaatan insentif fiskal dan green financing.

Ketiga, para pemangku kepentingan perlu memperkuat sinkronisasi antara Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), jaringan, power purchase agreement (PPA), dan target commercial operation date (COD). Keempat, PGE perlu menyelaraskan strateginya dengan kebijakan pemerintah dalam blueprint pengembangan pusat data dan panas bumi nasional.

PGEO juga memasukkan inisiatif elektrifikasi green data center tersebut ke dalam strategi Beyond Electricity. Strategi ini juga mencakup elektrifikasi green hydrogen, pemanfaatan langsung uap panas bumi, hingga layanan teknologi dan laboratorium. 

Ia menilai melalui strategi tersebut, PGEO berupaya menciptakan permintaan baru terhadap energi panas bumi sekaligus mempercepat pemanfaatan potensi yang selama ini belum terserap.

Dari sisi kapasitas, PGE menargetkan kapasitas sekitar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan meningkat menjadi sekitar 1,8 GW pada 2034. PGEO akan menopang target tersebut dengan portofolio sumber daya sekitar 3 GW dan mengoptimalkan pengembangannya melalui pipeline proyek yang telah disiapkan.

PGE juga menyelaraskan pengembangan panas bumi tersebut dengan agenda swasembada energi pemerintah, termasuk alokasi panas bumi sebesar 5,2 GW dalam RUPTL.

“Hal ini juga mendukung cita-cita Indonesia untuk menjadi produsen panas bumi terbesar dunia pada 2030,” kata Ahmad Yani. 




add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...