Pencegahan Sakit Kurangi Beban Ekonomi Rp 16.900 Triliun

Ameidyo Daud Nasution
21 Mei 2016, 15:00
seminar kesehatan
Donang Wahyu|KATADATA

Indonesia bisa mengurangi beban perekonomian hingga US$ 1,3 triliun, sekitar Rp 16.900 triliun. Caranya, dengan mengatasi angka kematian akibat beberapa penyakit tidak menular, seperti jantung, stroke, dan diabetes melitus.

Peneliti University of Manchester, Gindo Tampubolon, mengatakan penghematan dapat dilakukan apabila pemerintah berfokus kepada pengurangan kematian penyakit tersebut. Sebaliknya, apabila pemerintah tidak melakukan apapun hingga 2035, total beban perekonomian mencapai US$ 5,4 triliun, sekira Rp 70.200 triliun.

“Fokus saja di penyakit tidak menular seperti kardiovaskular (jantung koroner, stroke). Beban kita terpotong US$ 1,3 triliun pada 2035,” kata Gindo di seminar Non-Communicable and Lifestyle Disease di Hotel J.W. Marriott, Jakarta, Kamis,19 Mei 2015. (Baca juga: Penerimaan Masih seret, Pemerintah Pangkas Proyeksi Ekonomi 2017).

Besaran tersebut dihitung berdasarkan produktivitas yang hilang -dengan variabel usia kematian di bawah 60 tahun- dan biaya perawatan secara akumulatif. Metode penghitungannya menggunakan Reynold Scores.

Menurut Gindo, upaya pencegahan ini penting dilakukan. Bila masalah mortalitas tidak ditangani, beban pemerintah akan makin besar. Sebaliknya, jika beban ekonomi dapat dikurangi, Indonesia akan jauh lebih kompetitif ketimbang negara-negara tetangga. Apalagi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mulai berlaku.

Niken Wastu Palupi membenarkan hasil penelitian tersebut. Kepala Sub Direktorat Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan ini mengatakan beban biaya pelayanan medis akibat penyakit jantung, stroke, ginjal, diabetes, dan kanker pada tahun lalu mencapai hampir Rp 13 triliun.

Halaman:

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...