Ekonomi Kuartal I Anjlok jadi 2,97%, Airlangga Sebut Soal Demand Shock
Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 hanya mencapai 2,97%, anjlok dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,02%. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, realisasi pertumbuhan ekonomi yang rendah antara lain disebabkan oleh gejolak pada permintaan akibat pandemi virus corona.
"Pertumbuhan ekonomi seperti diprediksi akibat pandemi Covid-19 terjadi demand shock," ujar Airlangga usai rapat terbatas melalui video conference, Selasa (5/5).
Salah satu komponen yang menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tiga bulan pertama tahun ini, menurut Airlangga, adalah konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan konsumsi anjlok dari 5,02% pada periode yang sama tahun lalu menjadi 2,84%.
Faktor lain yang menjadi biang keladi penurunan pertumbuhan ekonomi adalah pembentukan modal serta ekspor dan impor. Pembentukan modal tetap bruto melambat dari 5,03% menjadi 1,7%. Sedangkan ekspor mengalami kontraksi sebesar -1,58%. "Penurunan dari segi impor -2,19%," kata Airlangga.
(Baca: Terpukul Efek Corona, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Anjlok jadi 2,97%)
Meski demikian, Airlangga menilai pertumbuhan ekonomi dalam tiga bulan pertama tahun ini masih cukup baik. Pasalnya, realisasi pertumbuhan tersebut masih lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi yang dibuat pemerintah dalam APBN Perubahan 2020 sebesar 2,3%.
"Kita masih positif pada kuartal I 2020 2,97% dan kita memproyeksikan di APBN 2020 sebesar 2,3%," kata dia.
Airlangga menyebut anjloknya pertumbuhan ekonomi kuartal pertama ini juga dialami oleh negara-negara lain di seluruh dunia. Bahkan, banyak negara mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif akibat pandemi virus corona.
Sebelumnya, Amerika Serikat mencatatkan ekonomi pada kuartal I 2020 negatif 4,8%. Tiongkok bahkan mencatatkan ekonomi negatif 6,8%, terendah sejak revolusi budaya.
Oleh karena itu, menurut Airlangga, kondisi Indonesia terbilang cukup baik lantaran bisa mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif di tengah pandemi corona. Ini juga sesuai dengan prediksi yang disampaikan oleh International Monetary Fund.
"Prediksi yang disampaikan oleh IMF, misalnya, itu tiga negara dengan pertumbuhan masih positif, yaitu Indonesia, China, dan India," kata Airlangga.
(Baca: Ekonomi Triwulan I Terendah Sejak 2001, Pertanian Nyaris Tak Tumbuh)
IMF sebelumnya memprediksi ekonomi Indonesia pada tahun ini tumbuh 0,5% akibat pandemi corona. Sementara pada tahun depan, ekonomi domestik diperkirakan 8,2%.
Kendati demikian, ramalan IMF ini dibuat dalam skenario dasar atau pandemi corona sudah mereda pada semester kedua dan karantina wilayah atau lockdown di sejumlah negara mulai dilonggarkan.
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2020 masih dapat mencapai 4,6%. Dampak pandemi corona diperkirakan baru akan sangat terlihat pada kuartal II 2020.
Pemerintah secara keseluruhan tahun memproyeksi ekonomi Indonesia tumbuh 2,3% atau sesuai dengan skenario dampak berat pandemi corona.
