Pengumuman Data Inflasi AS Diramal Bikin Rupiah Makin Anjlok

Agatha Olivia Victoria
13 April 2021, 11:46
rupiah, inflasi
ANTARA FOTO/REUTERS/Mike Segar/HP/sa.
Antrean calon penerima vaksin Covid-19 di sekitar Jacob K. Javits Convention Center di tengah kota Manhattan sisi barat, New York, AS, (2/3/2021).

Nilai tukar rupiah pada pasar spot pagi ini dibuka turun 0,12% ke level Rp 14.612 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah melemah seiring penantian data inflasi Negeri Paman Sam.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia melemah pagi ini. Yen Jepang turun 0,17%, dolar Singapura 0,01%, won Korea Selatan 0,1%, rupee India 0,42%, ringgit Malaysia 0,06%, dan baht Thailand 0,08%. Sedangkan dolar Hong Kong menguat 0,01%, peso Filipina 0,02%, dan yuan Tiongkok 0,04%.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji mengatakan kinerja inflasi AS maupun inflasi inti diperkirakan membaik. "Sentimen itu akan memberikan katalis positif bagi dolar AS," kata Nafan kepada Katadata.co.id, Selasa (13/4).

Saat berita ini ditulis indeks dolar AS naik 0,07% ke level 92.20. Dolar menguat terhadap mayoritas mata uang utama seperti euro, pound Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss.

Selain itu, kekhawatiran mengenai peningkatan kasus baru Covid-19 secara global menekan rupiah. Berdasarkan data Worldometers menunjukan, kasus virus corona di dunia bertambah 3.178 pada pukul 09.30 WIB menjadi 137,25 juta. Angka kematian tercatat 2,96 juta dan kesembuhan 110,43 juta.

Hingga saat ini, Nafan menilai data makroekonomi domestik belum memberikan pengaruh signifikan terhadap rupiah. "Kebijakan larangan mudik saat lebaran dari pemerintah merupakan sentimen negatif bagi rupiah," ujar dia.

Kementerian Perhubungan telah menerbitkan aturan mengenai pengendalian transportasi selama masa lebaran. Berbagai pembatasan dilakukan seiring dengan larangan mudik lebaran. Di antaranya, perjalanan kereta antar kota yang ditiadakan pada 6 Mei hingga 17 Mei 2021

Nafan menuturkan bahwa terlihat adanya pola upward bar pada grafik harian secara teknikal yang mengindikasikan adanya potensi depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Dengan demikian, potensi pergerakan rupiah ada di antara Rp 14.540-14.710 per dolar AS.

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menilai, rupiah melemah untuk ketiga hari secara berturut-turut setelah investor asing mencatatkan aliran modal keluar sejalan dengan berpindahnya mereka ke aset safe haven. "Ini didorong oleh pernyataan Gubernur Bank Sentral AS, The Fed Jerome Powell yang bullish terkait perekonomian AS," kata Josua kepada Katadata.co.id, Selasa (13/4).

Powell mengatakan bahwa ekonomi AS berada pada titik perubahan dengan ekspektasi bahwa pertumbuhan dan perekrutan pekerjaan akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Kendati begitu, ia juga memperingatkan risiko yang berasal dari pembukaan kembali  wilayah yang tergesa-gesa.

Di pasar saham, Josua menyebutkan bahwa investor asing membukukan jual bersih sebanyak US$ 18,55 juta. Aksi tersebut mengakibatkan Indeks Harga Saham Gabungan turun 2% ke level 5.949 pada penutupan kemarin sore, Senin (12/4).

Rupiah juga ditutup melemah 0,21% ke level Rp 14.595 per dolar AS kemarin. Dirinya memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp 14.550-14.675 per dolar AS hari ini.

Dolar AS memangkas pelemahannya setelah imbal hasil atau yield obligasi AS naik setelah lelang. Dalam lelang tersebut, yield surat utang Negeri Paman Sam tenor 10 tahun naik hingga mencapai titik tertinggi sejak Januari 2021, yakni menjadi 1,67%.

Salah satu pejabat The Fed, James Bullard, menyatakan bahwa jika tingkat vaksinasi mencapai 75% maka hal tersebut merupakan sinyal berakhirnya krisis pandemi. Sehingga, Fed sangat mungkin mempertimbangkan kebijakan tapering.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...