Harga Pangan Naik Jelang Lebaran, BPS Catat Inflasi Mei 0,38%

Agatha Olivia Victoria
2 Juni 2021, 12:02
inflasi, inflasi Mei, BPS, harga pangan, lebaran
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp.
BPS mencatat inflasi pada Mei disumbang oleh kenaikan harga daging ayam, daging sapi, hingga ikan segar.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi pada Mei 2021 sebesar 0,32% secara bulanan atau month on month (mom), meningkat dibandingkan April yang hanya 0,13%. Inflasi pada bulan lalu disumbang oleh kenaikan harga pangan dan tarif angkutan menjelang Lebaran

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto menjelaskan, permintaan kenaikan terasa pada bulan lalu terutama menjelang Lebaran. Harga bahan pangan, seperti daging ayam, ikan segar, dan daging sapi berkontribusi terbesar terhadap inflasi Mei. 

"Daging ayam dan ikan segar memberikan andil inflasi 0,04% daging sapi 0,02%, sedangkan minyak goreng, lauk pauk menyumbang 0,01%," ujar Setianto dalam Konferensi Pers Pengumuman Inflasi, Rabu (2/6). 

Meski demikian, menurut dia, ada sejumlah harga pangan yang menyumbang deflasi, yakni cabai merah dan cabai rawit dengan andil masing-masing 0,07% dan 0,05%. Inflasi sepanjang tahun ini (Januari-Mei 2021) atau year to date  tercatat 0,9% sedangkan inflasi secara tahunan atau year on year mencapai 1,68%. 

Selain harga pangan, inflasi juga disumbang oleh kenaikan tarif angkutan udara dengan andil 0,04%, serta kenaikan harga emas perhiasan, tarif angkutan antar kota dan kereta api yang memberikan andil masing-masing 0,01%. 

Setianto mencatat, dari 99 kota indeks harga konsumen yang diamati BPS, 78 kota mengalami inflasi, sedangan 12 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manokwari sebesar 1,82%, terutama disumbang oleh kenaikan tarif angkutan udara dan harga ikan. Sedangkan inflasi terendah terjadi di kota Tembilahan sebesar 0,01%. 

"Deflasi tertinggi terjadi di Timika sebesar 0,03% sedangkan deflasi terendah di Palembang 0,02%," katanya. 

Berdasarkan komponennya, kelompok harga diatur pemerintah menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi sebesar 0,48% dan andil 0,09%. Inflasi pada kelompok ini terutama disumbang oleh tarif angjutan udara, tarif angkutan antar kota, dan tarif parkir.

Inflasi juga disumbang oleh kelompok harga yang bergejolak dengan inflasi 0,39% dan andil 0,07% seiring kenaikan sejumlah harga pangan. Sementara komponen inti mencatatkan inflasi 0,24% dengan andil 0,16%. Inflasi inti terutama disumbang oleh kenaikan harga  emas perhiasan, serta  harga nasi dan lauk pauk.

"Inflasi inti Mei 2021 melampaui 2020. Inflasi inti secara tahunan pada Mei 1,37%, juga lebih tinggi dibandingkan April yang sebesar 1,18%. 

Inflasi Inti yaitu komponen harga barang/jasa yang cenderung menetap atau persisten di dalam pergerakannya. Inflasi ini dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti interaksi permintaan-penawaran, lalu lingkungan eksternal seperti nilai tukar, harga komoditi internasional, dan inflasi mitra dagang sehingga sering digunakan untuk melihat gambaran daya beli masyarakat. 

Inflasi pada tahun lalu hanya mencapai 1,68%, terendah dalam dua dekade terakhir. Inflasi yang rendah menunjukkan daya beli masyarakat yang lemah akibat Pandemi Covid-19.

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede sebelumnya memperkirakan inflasi Mei 2021 naik 0,31% secara bulanan atau 1,67% secara tahunan. "Peningkatan ini berkaitan dengan perkiraan peningkatan inflasi di semua komponen, mulai dari inflasi inti, inflasi dari sisi barang bergejolak, hingga barang yang diatur pemerintah," kata Josua kepada Katadata.co.id, Rabu (2/6).

Perkembangan inflasi bulan lalu  didorong oleh kenaikan permintaan di saat menjelang Lebaran, terutama saat turunnya tunjangan hari raya bagi para pekerja.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...