Rupiah Anjlok ke Rp 14.470/US$ Tertekan Sentimen Tapering Off The Fed
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,36% ke level Rp 14.455 per dolar AS di perdagangan di pasar spot hari ini. Wacana tapering off bank sentral AS diperkirakan masih cukup kuat menekan rupiah.
Mengutip Bloomberg, kurs rupiah terus bergerak melemah ke level Rp 14.470 per dolar AS hingga pukul 10.00 WIB. Ini melanjutkan pelemahan dari posisi penutupan kemarin di level Rp 14.403.
Mayaoritas mata uang lainnya juga bergerak melemah. Dolar Hong Kong melemah 0,02%, Dolar Singapura 0,01%, dolar Taiwan 0,08%, won Korea Selatan 0,10%, yuan Tiongkok 0,11% dan ringgit Malaysia 0,04%. sebaliknya, peso Filipina menguat 0,09%, bersama rupee India 0,14%, bath Thailand 0,08%, yen Jepang stagnan.
Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan melanjutkan pelemahan hari ini ke level Rp 14.420 per dolar AS, dengan potensi support Rp 14.380. Pelemahan masih dipengaruhi sentimen tapering off bank sentral AS, The Federal Reserve (Fed) yang menguat beberapa hari terakhir.
"Tekanan terhadap rupiah mungkin belum hilang hari ini. Sentimen tapering masih bisa mendorong pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS," kaya Ariston kepada Katadata.co.id, Jumat (20/8).
Risalah rapat komite pasar terbuka federal (FOMC) baru saja dirilis Rabu dini hari kemarin. Notulen tersebut menunjukkan, pejabat The Fed semakin dekat dengan rencana penarikan pembelian obligasi pemerintah sebelum akhir tahun ini.
"Sebagian besar peserta mencatat bahwa, asalkan ekonomi berkembang secara luas seperti yang mereka antisipasi, mereka menilai bahwa mungkin tepat untuk mulai mengurangi laju pembelian aset tahun ini,” demikian tertulis dalam risalah rapat yang dikutip dari CNBC, Kamis (19/8).
Kendati demikian, Fed juga menegaskan langkah penarikan stimulus tidak ada hubungannya dengan rencana kenaikan suku bunga. Sejumlah pejabat masih berbeda pendapat terkait percepatan kenaikan suku bunga, terutama karena perbedaan pandangan terhadap inflasi. Beberapa menilai inflasi yang tinggi mungkin akan bertahan lebih lama, sehingga suku bunga perlu dinaikan lebih cepat. Di sisi berlawanan, beberapa juga menilai inflasi mungkin naik hanya sesaat dan bisa jadi akan turun lagi yang mengindikasikan pemulihan berjalan melambat.
Wacana tapering off kembali diperkuat oleh data pengangguran yang dirilis Departemen Ketenagakerjaan Kamis dini hari. Jumlah klaim pengangguran pada pekan kedua Agustus tercatat 348 ribu, turun ke level terendah sepanjang pandemi Covid-19. Jumlahnya turun dari pekan sebelumnya sebanyak 377 ribu.
Kalim pengangguran yang dirilis tiap minggu oleh pemerintah itu sempat menunjukkan rekor tertinggi tahun lalu, yakni mencapai 2,9 juta klaim pada pekan ketiga Maret. Pada periode tersebut, ekonomi AS juga mulai memasuki periode resesi akibat gelombang pertama Covid-19.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah juga masih dipengaruhi oleh sentimen negatif pasar terhadap aset berisiko di tengah laporan kasus Covid-19 global yang masih tinggi. Kondisi ini diprediksi makin memperlemah mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
"Kekhawatiran soal kenaikan kasus covid-19 juga belum mereda dan ini membantu memberikan tekanan ke rupiah karena pelaku pasar menghindari aset berisiko," ujar Ariston.
Mengutip Worldometer, jumlah kasus konfirmasi positif global hingga hari ini 210,7 juta kasus. Total kematian sejak awal pandemi sebanyak 4,4 juta orang dan kesembuhan sebanyak 188 juta kasus. Sementara jumlah kasus aktif terpantau sebanyak 17,6 juta kasus positif.
Penyebaran Covid-19 terutama oleh varian Delta menunjukkan adanya gelombang baru yang sudah dimulai sejak awal Juli lalu. Jumlah kasus harian sempat mencapai rekor tertinggi penambahan 730.497 kasus positif baru pada 13 Agustus, tertinggi sejak 13 Mei 2021. Beberapa negara yang terus melaporkan kenaikan kasus tinggi beberapa pekan terakhir antara lain, Amerika Serikat, India, Inggris, Brazil dan Indonesia. Beberapa hari terakhir, Malaysia, Thailand dan Filipina juga menghadapi kondisi yang semakin buruk.
