IMF Peringatkan Risiko Bank Sentral Borong Surat Utang Pemerintah

Abdul Azis Said
10 Januari 2022, 11:05
surat utang pemerintah, bank indonesia, bank sentral, surat utang negara, IMF
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/rwa.
Ilustrasi. BI menjadi standby buyer untuk pembelian obligasi pemerintah senilai Rp 215 triliun untuk APBN 2021 dan Rp 224 triliun untuk tahun ini.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan sejumlah risiko dari langkah bank sentral negara berkembang memborong surat utang pemerintah dalam rangka pemulihan dari pandemi. Bank Indonesia juga telah memborong ratusan triliun obligasi pemerintah. 

"Meskipun pembelian aset dapat membantu bank sentral mencapai tujuan yang diamanatkan, mereka juga menimbulkan risiko yang signifikan," tulis IMF dikutip Senin (10/1).

Advertisement

IMF mencatat, bank sentral di banyak negara berkembang cenderung enggan menggunakan langkah pembelian aset saat menghadapi krisis di masa lalu. Hal ini karena ketakutan bahwa langkah tersebut bisa menimbulkan reaksi terhadap pasar.

Namun, pembelian aset yang dilakukan sejumlah bank sentral negara berkembang saat krisis Covid-19 rupanya berdampak positif. Kebijakan ini membantu mengurangi tekanan di pasar keuangan tanpa memicu arus keluar modal atau tekanan nilai tukar yang signifikan.

Pengalaman positif ini, menurut IMF, dapat menjadi bekal bank sentral banyak negara berkembang melakukan langkah serupa jika gejolak pasar kembali terjadi di masa depan. Meski demikian, IMF juga memperingatkan risiko dari kebijakan ini.

Salah satu risiko yang nyata, yakni pada neraca bank sentral itu sendiri. "Bank sentral dapat kehilangan uang jika mereka membeli utang negara atau perusahaan ketika suku bunga rendah di seluruh tenor dan kemudian suku bunga kebijakan naik tajam," kata IMF.

Risiko lainya yang diperingatkan IMF yakni dominasi fiskal yang dapat mengganggu independensi bank sentral. Langkah bank sentral menyediakan pembiayaan murah berpotensi membuat pemerintah menjadi terbiasa sehingga dapat meminta bank sentral untuk kembali melanjutkan kebijakan tersebut. Ini bukan tidak mungkin tetap dilakukan saat inflasi naik dan bank sentral seharusnya menarik dukungan.

"Hilangnya kepercayaan terhadap kemampuan bank sentral untuk menjaga inflasi tetap rendah dan stabil dapat memicu periode inflasi yang tinggi dan bergejolak," tulis IMF.

Tidak hanya itu, bank sentral dikhawatirkan lebih berani mengambil kebijakan yang dapat memicu risiko (risk-taking) berlebihan dan mengikis disiplin pasar. Selain itu, peran bank sentral yang lebih aktif dalam market-making dapat menghambat perkembangan pasar keuangan.

Halaman:
Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement