Rupiah Menguat Rp 14.295/US$ Efek Pencabutan Larangan Ekspor Batu Bara
Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,03% ke level Rp 14.299 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Penguatan rupiah ditopang rencana pembukaan kembali ekspor batu bara yang sempat disetop pemerintah.
Mengutip Bloomberg, rupiah semakin menguat ke Rp 14.285 pada pukul 09.30 WIB dari posisi penutupan kemarin di Rp 14.304 per dolar AS.
Mayoritas mata uang Asia lainnya menguat. Yen Jepang dan dolar Singapura kompak menguat 0,01%, dolar Taiwan 0,05%, won Korea Selatan 0,44%, peso Filipina 0,16%, rupee India 0,17%, yuan Cina 0,15% dan ringgit Malaysia 0,26%. Sementara pelemahan dialami dolar Hong Kong 0,02% dan bath Thailand 0,15%.
Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah bisa menguat ke arah Rp 14.250, dengan potensi pelemahan di Rp 14.320 per dolar AS. Penguatan rupiah salah satunya berkat sentimen positif pencabutan larangan ekspor batu bara.
"Pencabutan larangan ekspor batubara mungkin bisa menjadi katalis positif untuk rupiah. Hal ini karena ekspor komoditas penyumbang surplus neraca perdagangan," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Rabu (12/1).
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memastikan ekspor batu bara akan kembali dibuka secara bertahap mulai hari ini. Sejumlah kapal bermuatan batu bara telah diverifikasi untuk dilepas pada Senin (12/1).
Meski demikian, Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan pihaknya belum memutuskan untuk membuka keran ekspor batu bara. Hal ini sekaligus membantah kabar sebelumnya yang menyebutkan ekspor batu bara akan dibuka kembali mulai 12 Januari.
"Masih berlaku sampai 31 Januari 2022. Jadi ini belum ada keputusan," kata dia dalam diskusi Economic Challenges, Selasa (11/1).
Larangan ekspor batu bara ini sempat menimbulkan kekhawatiran akan mengganggu kinerja ekspor Indonesia yang sebagian besar juga ditopang pengiriman batu bara. Kendati demikian, larangan ini dilakukan untuk memastikan pasokan dalam negeri tercukupi dan menghindari risiko blackout.
Selain sentimen pencabutan larangan ekspor batu bara, Ariston juga mengatakan penguatan rupiah didorong pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell di hadapan Senat AS tadi malam. Kehadiran Powell ini dalam rangka menjelaskan arah kebijakan moneter The Fed.
"Powell tidak memberikan kejutan mengenai percepatan kenaikan suku bunga acuan AS. Semua yang diungkapkan Powell sudah tertuang dalam notulen rapat yang dirilis di awal bulan ini dan sudah diantisipasi pasar," kata Ariston.
Dalam notulen rapat pembuat kebijakan yang dirilis pekan lalu, The Fed kemungkinan mempercepat kenaikan bunga acuan seiring quantitative easing yang diperkirakan berakhir di Maret 2021. The Fed tampaknya akan menaikkan bunga acuannya tiga kali tahun ini, tetapi pasar juga mulai mengantisipasi kenaikan bisa hingga empat kali.
Di hadapan Senat, Powell menegaskan bahwa perekonomian AS berangsur sehat, karena itu kebijakan moneter juga mulai dinormalisasi. Pengetatan moneter ini juga dalam rangka merespon kenaikan harga-harga yang sudah mencapai rekor tertinggi dalam empat dekade pada November.
"Jika kita melihat inflasi bertahan pada tingkat yang lebih lama dari yang diharapkan, maka jika kita harus menaikkan suku bunga maka akan kita lakukan. Kami akan menggunakan alat yang kami untuk mengembalikan inflasi," kata dia seperti dikutip dari CNBC Internasional.
