Rupiah Diramal Menguat meski Konflik Rusia dan Ukraina Memanas

Abdul Azis Said
23 Februari 2022, 09:52
rupiah, rusia, ukraina, dolar, dolar as,
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU
Pegawai menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Jumat (5/11/2021).

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 16 poin ke level Rp 14.350 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pagi ini. Rupiah diramal masih bisa melanjutkan penguatan sekalipun konflik di Rusia dan Ukraina terus memanas.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah bergerak melemah ke Rp 14.354 pada Pukul 09.20 WIB. Ini semakin dekat dengan posisi penutupan kemarin di Rp 14.366 per dolar AS.

Mata uang Asia lainnya bergerak bervariasi. Penguatan dialami oleh yen Jepang 0,02%, dolar Singapura 0,06%, won Korea Selatan 0,11%, peso Filipina 0,19% dan bath Thailand 0,1%.

Sedangkan dolar Taiwan melemah 0,01%, rupee India 0,48%, yuan Cina 0,06%, serta ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong kompak turun 0,01%.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah bergerak menguat ke kisaran Rp 14.330 per dolar AS. Ini dengan potensi pelemahan ke kisaran Rp 14.380 per dolar AS.

Rupiah masih bisa menguat sekalipun konflik Rusia dan Ukraina terus memanas.

"Sentimen pasar keuangan terlihat lebih positif terhadap aset berisiko pagi ini. Indeks saham Asia terlihat dibuka menguat. Rupiah mungkin bisa menguat hari ini terhadap dolar AS," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Rabu (23/2).

Sekalipun konflik di dua negara bekas Uni Soviet terus memanas, NATO baru memberikan pernyataan terkait sanksi ekonomi dan belum ke arah perlawanan militer. Ariston melihat kondisi ini mungkin sedikit meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi perang.

Meski demikian, pasar masih terus memantau risiko itu dan kemungkinan terjadi perang di Ukraina. Dengan demikian, harga aset berisiko berpotensi tertekan lagi.

Amerika menjatuhkan sejumlah sanksi ke Rusia. CNN Internasional melaporkan, Presiden AS Joe Biden mengumumkan sanksi pemblokiran penuh untuk dua lembaga keuangan besar Rusia.

Negeri Paman Sam juga memutus akses pemerintah Rusia terhadap pembiayaan utang dari Barat.

Selain meredanya kekhawatiran terkait perang Rusia dan Ukraina, sentimen penguatan rupiah hari ini yakni membaiknya penanganan Covid-19 global.

Data Worldometers menunjukkan, kasus positif harian dunia 1.286.485 pada Senin (21/2). Angka ini mulai turun setelah mencapai puncak lebih dari 3,8 juta per hari pada 20 Januari.

"Di beberapa negara seperti AS dan Inggris, masyarakat sudah dibebaskan untuk tidak memakai masker dan mendorong aktivitas perekonomian supaya kembali bergerak normal seperti sebelum pandemi," kata Ariston.

Namun, kenaikan kasus harian nasional kemarin (22/2) bisa menjadi penekan rupiah. Kasus Covid-19 bertambah 57.491 orang.

Hal itu menandai berakhirnya tren penurunan yang sudah berlangsung beberapa hari terakhir. Mayoritas dari penambahan kasus Covid-19 kemarin berasal dari Jawa Barat dan Jawa Timur.

Analis pasar uang Bank Mandiri Rully A Wisnubroto memperkirakan, rupiah bergerak pada rentang Rp 14.323 - Rp 14.395 per dolar AS. Sentimen penekannya berasal dari eksternal, terutama konflik Rusia dan Ukraina.

Sanksi yang diberikan negara-negara barat dikhawatirkan bisa berdampak ke perekonomian global.

"Sementara dari dalam negeri, sebenarnya prospek cukup baik terkait pengendalian pandemi corona dan ekonomi tahun ini," kata Rully kepada Katadata.co.id

Kementerian Keuangan memperkirakan ekonomi tumbuh 4,8% hingga 5,5% tahun ini sekalipun ada lonjakan Omicron pada awal tahun.

Kenaikan kasus Covid-19 selama beberapa pekan terakhir dinilai hanya akan berdampak terbatas ke perekonomian. Ini karena cakupan vaksinasi dan kemampuan adaptasi dari masyarakat.

Reporter: Abdul Azis Said

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...