Rupiah Diramal Menguat Terdongkrak Anjloknya Harga Minyak Dunia
Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis empat poin ke level Rp 14.364 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Meski demikian, rupiah diramal berbalik menguat imbas mulai turunnya harga minyak mentah dunia dan hasil yang positif dari perundingan Rusia dan Ukraina.
Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik menguat ke level Rp 14.362 pada pukul 09.15 WIB, tetapi masih melemah dibandingkan posisi penutupan kemarin di Rp 14.360 per dolar AS.
Mayoritas mata uang Asia lainnya menguat pagi ini. Yen Jepang menguat 0,14%, won Korea Selatan 0,54%, bath Thailand 0,17%, yuan Cina dan dolar Singapura 0,08%, rupee India 0,05%, dolar Taiwan 0,07% dan dolar Hong Kong 0,02%. Sebaliknya, ringgit Malaysia melemah 0,09% serta peso Filipina stagnan.
Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah bisa menguat hari ini ke rentang Rp 14.320-Rp 14.330 per dolar AS, dengan potensi pelemahan hingga Rp 14.380 per dolar AS. Pelemahan rupiah terdorong mulai turunnya harga minyak dunia.
"Penurunan harga minyak mentah memperbaiki sentimen pasar menjadi lebih positif terhadap aset berisiko. Penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran terhadap inflasi yang tidak terkendali," kata Ariston, Selasa (29/3).
Harga minyak mentah WTI kontrak Mei 2022 anjlok 1,23% pagi ini menjadi US$ 104,7 per barel. Penurunan lebih dalam pada Brent kontrak Mei 2022 sebesar 1,4% menjadi US$ 111 per barel.
Penurunan harga minyak didorong oleh kebijakan Cina untuk melakukan karantina atau lockdown terhadap Shanghai demi meredam lonjakan Covid-19. Penguncian wilayah ini menyebabkan harga minyak mentah turun karena potensi penurunan permintaan.
Ariston juga menilai rupiah dapat memperoleh sentimen positif dari perundingan antara Rusia dan Ukraina jika berhasil mengantongi kesepakatan ke arah perdamaian. Ukraina dikabarkan sudah menyiapkan proposal perdamaian. Pasar kini menunggu kejelasan dari pihak Rusia.
Di sisi lain, analis pasar uang Bank Mandiri Rully A. Wisnubroto menilai, rupiah masih dibayangi sentimen koreksi dari kenaikan suku bunga global. Ia memperkirakan rupiah bisa melemah ke kisaran Rp 14.386 per dolar AS dengan potensi penguatan di Rp 14.334 per dolar AS.
"Yield US Treasury tenor dua tahun, yang berhubungan terbalik dengan harga, mengalami kenaikan ke level 2,39%, dan sepanjang tahun 2022 telah mengalami kenaikan hingga 160 bps," kata Rully kepada Katadata.co.id.
Menurutnya, sentimen kenaikan bunga acuan global, terutama di Amerika masih akan berpengaruh kepada pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.
Sentimen negatif juga datang dari dalam negeri. Hal ini terutama dipengaruhi adanya ekspektasi akan kenaikan inflasi karena gangguan supply energi dan beberapa komoditas sehingga mengganggu ekspektasi perbaikan ekonomi domestik.
Senada dengan Rully, analis DC Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah hari ini masih akan tertekan karena kenaikan yield obligasi AS serta penantian rilis data ekonomi Amerika. Rupiah cenderung melemah terbatas ke rentang Rp 14.300 - Rp 14.450 per dolar AS.
"Pelaku pasar juga menantikan data tenaga kerja non-farm payrolls Amerika Serikat pada Jumat ini yang diperkirakan sangat kuat dengan penambahan 700 ribu tenaga kerja," kata Lukman.
