Rupiah Jeblok ke Rp 15.648 per US$ Menanti Kebijakan Suku Bunga AS
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 12 poin ke level Rp 15.595 per dolar Amerika Serikat. Rupiah melemah seiring penantian pasar terkait data inflasi hingga pengumuman kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat.
Mengutip Bloomberg, rupiah semakin jeblok ke level Rp 15.648 per dolar AS hingga pukul 09.55 WIB. Mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS.
Yuan Cina melemah 0,42%, ringgit Malaysia 0,41%, baht Thailand 0,22%, won Korea Selatan 0,83%, peso Filipina 0,32%, dolar Taiwan 0,28%,dolar Singapura 0,13%, dan yen Jepang 0,26%. Namun, dolar Hong Kong dan Rupee India berhasil menguat masing-masing 0,01% dan 0,18%.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan tertekan pada perdagangan hari ini lantaran investor masih menunggu data-data terbaru dari Amerika Serikat. "Meskipun belakangan muncul ekspektasi bahwa the Fed bakal mengendurkan kenaikan suku bunga acuannya, tetapi serangkaian data ekonomi AS yang lebih bagus dari proyeksi mendorong pelaku pasar mewaspadai perubahan ekspektasi tersebut," ujar Pengamat pasar uang Ariston Tjendra kepada Katadata.co.id, Senin (12/12)
Mengutip CNN, para pengamat memperkirakan The Fed tak akan lagi agresif menaikkan bunga pada pertemuan pekan ini. Mereka memperkirakan The Fed hanya akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps.
Meski demikian, data inflasi konsumen AS yang dirilis pada Selasa waktu Amerika Serikat akan memberikan petunjuk kemungkinan kebijakan yang akan dikeluarkan The Fed keesokan harinya.
"Rupiah hari ini berpotensi melemah ke kisaran Rp 15.620 per dolar AS dengan support di kisaran Rp 15.550 per dolar AS," ujarnya.
Kepala Analis DCFX Lukman Leong juga memperkirakan rupiah akan melemah, tertekan oleh penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi.
"Data inflasi produsen AS yang lebih tinggi dari perkiraan memicu kembalinya kekhawatiran pasar bahwa the Fed akan mempertahankan tingkat suku bunga yang tinggi lebih lama. Rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 15.550-Rp 15.700 per dolar AS," ujarnya.
