Rupiah Jeblok ke Level 15.400/US$ Imbas Komentar Hawkish The Fed
Rupiah dibuka melemah 49 poin ke level Rp 15.416 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Mata uang Asia lainnya juga berguguran setelah gubernur bank sentral AS, The Federal Reserve memperkirakan suku bunga akan lebih tinggi dari perkiraan dan laju kenaikannya bisa saja dinaikkan setelah mulai dilonggarkan beberapa pertemuan terakhir.
Mengutip Bloomberg, rupiah terus melemah ke arah Rp 15.440 pada pukul 09.15 WIB, atau surah terkoreksi 0,47% dari penutipan kemarin.
Mayoritas mata uang Asia lainnya juga melemah terhadap dolar AS pagi ini. Won Korsel bahkan jatuh hingga 1,53%, disusul ringgit Malaysia 0,81%, peso Filipina 0,77%, dolar Taiwan 0,52%, yen Jepang 0,12%, dan yuan Cina 0,06%. Sebaliknya, rupee India menguat tipis 0,06% bersama dolar Singapura 0,04%, sedangkan dolar Hong Kong dan baht Thailand stagnan.
Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan melemah hari ini ke kisaran Rp 15.400, dengan potensi support di kisaran Rp 15.300 per dolar AS. Pelemahan rupiah hari ini terimbas komentar hawkish gubernur The Fed Jerome Powell terkait berlanjutnya kenaikan suku bunga.
Powell muncul di depan Kongres AS dalam rangka laporan tengah tahun The Fed semalam dan hari ini. Dalam komentarnya, ia menyebut tingkat terminal rate atau puncak kenaikan suku bunga kemungkinan lebih tinggi dari perkiraan awal. Hal ini seiring data inflasi dan tenaga kerja AS belakangan yang menunjukkan kondisi lebih kuat dari perkiraan. Pasar kini berekspektasi terminal rate The Fed akan mencapai 5,5%-5,75%.
Powell juga menekankan bahwa The Fed bersedia kembali menaikkan laju kenaikan suku bunga jika data terbaru mendukung perlunya mengambil langkah tersebut. Seperti diketahui, The Fed sebelumnya telah memperlambat laju kenaikan suku bunganya dengan kenaikan hanya 25 bps pada pertemuan bulan lalu setelah serangkaian kenaikan bunga agresif 75 bps pada akhir tahun lalu.
"Dolar AS langsung menguat terhadap nilai tukar utama dunia saat sesi dengar pendapat tersebut berlangsung dan mungkin bisa berlanjut hari ini," kata Ariston dalam catatannya pagi ini, Rabu (8/3).
Pasar keluar dari aset berisiko yang memicu pelemahan rupiah sebagai imbas meningkatnya ekspektasi kenaikan lebih lanjut suku bunga The Fed. Kenaikan bunga bank sentral AS itu bisa memicu kenaikan bunga oleh bank sentral lainnya. Kenaikan bunga berimplikasi terhadap perlambatan ekonomi karena biaya pinjaman menjadi lebih mahal.
Analis DCFX Lukman Leong juga memperkirakan rupiah kembali melemah hari ini dengan bergerak di rentang Rp 15.350-Rp 15.500 per dolar AS. Ia juga melihat pernyataan terbaru The Fed semalam memicu pelemahan rupiah.
Komentar The Fed soal suku bunga juga memicu penguatan dolar AS dan naikkanya imbal hasil alias yield obligasi AS. Lukman menyebut yield obligasi AS dua tahun bahkan mencapai level tertingginya sejak pertengahan 2007, sedangkan indels dolar AS naik ke rekor tertingginya dalam tiga bulan.
